Selasa, 31 Maret 2015

klasifikasi dan karakteristik ABK anak berkelainan fisik dan klasifikasi dan karakteristik ABK anak berkelainan emosi

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Tidak setiap anak mengalami perkembangan normal.Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus.Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak    berkebutuhan    khusus,  adalah   anak-anak   yang   memiliki   keunikan tersendiri   dalam   jenis   dan   karakteristiknya,   yang   membedakan   mereka   dari anak-anak     normal   pada   umumnya.     Keadaan    inilah  yang  menuntut    pemahaman terhadap hakikat anak berkebutuhan khusus. Keragaman anak berkebutuhan khusus terkadang    menyulitkan    guru   dalam   upaya   menemu    kenali   jenis  dan  pemberian layanan   pendidikan   yang   sesuai.   Namun   apabila   guru   telah   memiliki   pengetahuan dan   pemahaman   mengenai   hakikat   anak   berkebutuhan   khusus,   maka   mereka   akan dapat memenuhi kebutuhan anak yang sesuai.
Anak berkebutuhan khusus sejatinya terjadi dari berbagai macam dan karakter. Anak berkebutuhan khusus bisa digolongkan menjadi anak yang memiliki kelainan secara fisik, mental, berkelainan emosional maupun akademik. Dan sebagai tenaga pendidik, memahami berbagai karakter anak terutama anak yang memiliki karakter yang istimewa seperti anak berkebutuhan khusus tentu saja harus menjadi sebuah keahlian karena bukan tidak mungkin , siswa yang pada nantinya menjadi anak didik bisa saja memiliki keistimewaan seperti anak berkebutuhan khusus.
Untuk itu melalui makalah ini kami mencoba mengkaji lebih dalam mengenai klasifikasi dan karakteristik  Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berkelainan Fisik dan ABK berkelainan emosi
Oleh karna itu , penulis membuat makalah ini yang fungsinya bertujuan untuk memaparkan karakteristik – karakteristik yang terdapat pada anak yang mengalami gangguan fisik, dan emosi agar nantinya bagi para calon pendidik Anak Berkebutuhan Khusus dapat mengenali dan memahami mereka serta mampu memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus berkelainan fisik?
2.      Apa saja yang menjadi klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus berkelainan fisik?
3.      Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus berkelainan emosi (tunalaras)?
4.      Apa saja yang menjadi klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus berkelainan emosi (tunalaras)?

C.  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Fisik.
2.      Untuk mengetahui dan memahami apa saja klasifikasi serta karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Fisik.
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Emosi (Tunalaras).
4.      Untuk mengetahui dan memahami apa saja klasifikasi serta karakteruistik Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Emosi (Tunalaras).




PEMBAHASAN

A.  Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Fisik
1.    Anak Tunanetra
A.  Klasifikasi Anak Tunanetra
Anak tunanetra adalah anak-anak yang mengalami kelainan atau gangguan fungsi penglihatan, yang dinyatakan dengan tingkat ketajaman penglihatan atau visus sentralis diatas 20/200 dan secara pedagogis membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di sekolah.
Tunanetra memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Secara pedagogis membutuhkan pelayanan pendidikan khusus dan belajarnya di sekolah. Dalam http://nofriyanirezki.blogspot.com/2013/03/klasifikasi-anak-berkebutuhankhusus. Berdasarkan tingkatannya, anak Tunanetra dibedakan atas :
1.    Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan
Seseorang dikatakan penglihatannya normal, apabila hasil tes Snellen menunjukkan ketajaman penglihatannya 20/20 atau 6/6 meter. Sedangkan untuk seseorang yang mengalami kelainan penglihatan kategori low vision (kurang lihat), yaitu penyandang tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m. kondisi yang demikian sesungguhnya penderita masih dapat melihat dengan bantuan alat khusus. Selanjutnya untuk seseorang yang mengalami kelainan penglihatan kategori berat, atau The blind, yaitu penyandang tunanetra yang memiliki tingkat ketajaman penglihatan 6/60m atau kurang. Untuk yang kategori berat ini masih ada dua kemungkinan,
a.    Penderita adakalanya masih dapat melihat gerakan-gerakan tangan, ataupun
b.    Hanya dapat membedakan gelap dan terang.
Sedangkan tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan dengan visus 0, sudah sama sekali tidak dapat melihat.

2.    Berdasarkan Adaptasi Pedagogis
Kirk, SA (1989) dalam http://nofriyanirezki.blogspot.com/2013/03/klasifikasi anak berkebutuhankhusus. mengklasifikasikan penyandang tunanetra berdasarkan kemampuan penyesuaiannya dalam pemberian layanan pendidikan khusus yang diperlukan. Klasifikasi yang dimaksud adalah :
a.       Kemampuan melihat sedang (moderate visual disability), dimana pada taraf ini mereka masih dapat melaksanakan tugas-tugas visual yang dilakukan oleh orang awas dengan menggunakan alat bantu kgusus serta dengan bantuan cahaya yang cukup.
b.      Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability). Pada taraf ini, mereka memiliki penglihatan yang kurang baik, atau kurang akurat meskipun dengan menggunakan alat bantu visual dan modifikasi, sehingga mereka membutuhkan banyak dan tenaga dalam mengerjakan tugas-tugas visual.
c.       Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability). Pada taraf ini mereka mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas visual, dan tidak dapat melakukan tugas-tugas visual yang lebih detail seperti membaca dan menulis. Untuk itu mereka sudah tidak dapat memanfaatkan penglihatannya dalam pendidikan, dan mengandalkan indra perabaan dan pendengaran dalam menempuh pendidikan.

Secara fisik mungkin anak mampu mencapai kematangan sama dengan anak awas pada umumnya, tetapi dikarenakan fungsi psikisnya, seperti pemahaman terhadap realita lingkungan, kemungkinan adanya bahaya dan cara – cara menghadapinya, keterampilan gerak serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas gerakan motorik. Anak tunanetra mengalami hambatan dalam sistem umpan balik persepsi penginderaan yang sangat penting dalam konsep belajar, seperti : pengenalan bentuk, ukuran dan ruang (spatial).
Fallen dan Umansky (1985) dalam http://nofriyanirezki.blogspot.com menjelaskan bahwa anak tunanetra cenderung gagal dalam memahami gambaran tubuh (body image) secara akurat, sebagai dampak dari eksplorasi yang terbatas, gerakan yang terbatas dan overprotection, yang semua ini kan berpengaruh terhadap kelambatan dalam perkembangan motoriknya.

Rizki,Nofriyani.2013. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus.http://nofriyanirezki.blogspot.com.
B.  Karakteristik Anak-Anak Tunanetra
Menurut Suparno dan Heri Purwanto dalam file:///C:/Users/PIC/Downloads/Documents/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf Beberapa kara-kteristik anakanak tunanetra adalah:
1.    Segi Fisik
Secara fisik anak-anak tunanetra, nampak sekali adanya kelainan pada organ penglihatan/mata, yang secara nyata dapat dibedakan dengan anak-anak normal pada umumnya hal ini terlihat dalam aktivitas mobilitas dan respon motorik yang merupakan umpan balik dari stimuli visual.
2.    Segi Motorik
Hilangnya indera penglihatan sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung terhadap keadaan motorik anak tunanetra, tetapi dengan hilangnya pengalaman visual menyebabkan tunanetra kurang mampu melakukan orientasi lingkungan. Sehingga tidak seperti anak-anak normal, anak tunanetra harus belajar bagaimana berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan orientasi dan mobilitas.

3.    Perilaku
Kondisi tunanetra tidak secara langsung menimbulkan masalah atau penyimpangan perilaku pada diri anak, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada perilakunya. Anak tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Manifestasi perilaku tersebut dapat berupa sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan kepala dan badan, atau berputar-putar. Ada beberapa teori yang mengungkap mengapa tunanetra kadang-kadang mengembangkan perilaku stereotipnya. Hal itu terjadi mungkin sebagai akibat daritidak adanya rangsangan sensoris, terbatasnya aktifitas dan gerak didalam lingkungan, serta keterbatasan sosial. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut dengan membantu mereka memperbanyak aktifitas, atau dengan mempergunakan strategi perilaku tertentu, seperti memberikan pujian atau alternatif pengajaran, perilaku yang lebih positif, dan sebagainya.
4.    Akademik
Secara umum kemampuan akademik, anak-anak tunanetra sama seperti anak-anak normal pada umumnya. Keadaan ketunanetraan berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Dengan kondisi yang demikian maka tunanetra mempergunakan berbagai alternatif media atau alat untuk membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka mungkin mempergunakan huruf braille atau huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran. Dengan asesmen dan pembelajaran yang sesuai, tunanetra dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulisnya seperti teman-teman lainnya yang dapat melihat.
5.    Pribadi dan Sosial
Mengingat tunanetra mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan menirukan, maka anaktunananetra sering mempunyai kesulitan dalam melakukan perilaku sosial yang benar. Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra perlu mendapatkan latihan langsung dalam bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, mempergunakan intonasi suara atau wicara dalam mengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi.
Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan tersebut. Keterbatasan tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh pada hubungan sosial. Dari keadaan tersebut mengakibatkan tunanetra lebih terlihat memiliki sikap:
a.       Curiga yang berlebihan pada orang lain, ini disebabkan oleh kekurangmampuannya dalam berorientasi terhadap lingkungannya.
b.      Mudah tersinggung. Akibat pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan atau mengecewakan yang sering dialami, menjadikan anak-anak tunanetra mudah tersinggung.
c.       Ketergantungan pada orang lain. Anak-anak tunanetra umumnya memilki sikap ketergantungan yang kuat pada oranglain dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Kondisi yang demikian umumnya wajar terjadi pada anak-anak tunanetra berkenaan dengan keterbatasan yang ada pada dirinya.
Suparno dan Heri Purwanto.Pendidikan Anak Kebutuhan Khusus. file:///C:/Users/PIC/Downloads/Documents/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf
2.    Anak Tunarungu
A.  Klasifikasi Anak Tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki karakteristik yang khas, berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Dalam http://mely novikasari loelhabox.blogspot.com/2014/04/abk-berkelainan-fisik.html Tunarungu terdiri atas 2 tingkatan yaitu umum dan khusus,
1.    Tunarungu secara umum
a.    the deaf atau tuli, yaitu peyandang tunarngu berat dan sangat berat dengan tingkat ketulian di atas 90 dB.
b.    heard of hearing, atau kurang dengan yaitu penyandang tunarungu ringan atau sedang dengan derajat ketulian 20- 90 dB.
2.    Tunarungu secara khusus.
a.    tunarungu ringan adalah penyandang tunarungu yang mengalami tingkt ketulian 25-45 dB. Seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf ringan  dimana ia mengalami kesulitan untuk merespon suara-suara yang datangnya agak jauh.
b.    Tunarungu sedang, adaah penyandan tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 46-70 dB. Seseorang yang mengalami ketnarunguan taraf sedang dimana ia hanya dapat mengerti percakapan pada jarak 3-5 feet secara berhadapan, tetapi idak dapat mengikuti diskusi-diskusi dikelas. Pada kondisi anak tunarungu yang demikian sudah memerlukan alat bantu dengar  (heardingan  aid)  memerukan pembinaan komunikasi, persepsi, bunyi dan irama.
c.    Tunarungu berat, adalah penyandang tunarungu yang mengalami tingkat kesulitan 71-90 dB. Seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf berat, hanya dapat merespon bunyi-bunyi dalam jarak yang sangat dekat dan diperkeras. Pada anak tunarungu demikian memerlukan alat bantu dengar dalam mengikuti pendidikan disekolah, selain itu juga diperlukan pembinaan dan latihan berkomunikasi dan pengembangan bicaranya.
d.   Tunarungu sangat berat (profound) adalah penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 90 dB ke atas. Pada tahap ini seseorang sudah tidak dapat lagi merespon suara sama sekali, kemungkinan hanya bisa merespon melaui getaran-getaran suara yang ada. Untuk menyandang tunarungu ini lebih mengandalkan kemampuan visual atau penglihatannya. 
Perkembangan fisik atau motorik anak tunarungu tidak begitu jauh berbeda dengan perkembangan anak pada umunya. Bahkan tidak jarang anak tunarungu baru dapat dikendali ketika diajak berbicara atau berkomunikasi, tetapi terkadang ditemui pada beberapa anak tunarungu yang letak gangguan pendengarannya pada teliga bagian dalam ( auri internal) yang mengenai bagian organ keseimbangan (semiciculas canals) yang pada giliranya juga dapat mempengaruhi nerves cochlearis (saraf keseimbangan ) yang menyebabkan anak ketika berjalan seperti terhuyung – huyung (akan jatuh). Anak kurang memiliki keseimbangan yang baik. Tetapi selain dari pada itu, jika anak murni mengalami ketunarunguan maka perkembangan fisik tidak banyak mengalami ketunarunguan maka perkembangan fisiknya mengalami ketunaan penyerta (double handicapped).

Novikasari, Mely. 2014. ABK Berkelainan Fisik.http://mely novikasari loelhabox.blogspot.com.

B.  karakteristik Anak Tunarungu
Menurut Suparno dan Heri Purwanto dalam file:///C:/Users/PIC/Downloads/Docume ts/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf karakteristik anak tunarungu adalah:
1.    Segi Fisik
a.       Cara berjalannya kaku dan agakmembungkuk. Akibat terjadinya permasalahan pada organ keseimbangan pada telinga, menyebabkan anak-anak tunarungu mengalami kekurangseimbangan dalam aktivitas fisiknya.
b.      Pernapasannya pendek, dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak pernah mendengarkan suara-suara dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana bersuara atau mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam berbicara.
c.       Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu, dimana besar pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak tunarungu juga dikenal sebagai anak visual, sehingga cara melihatpun selalu menunjukkan keingintahuan yang besar dan terlihat beringas.
2.    Segi Bahasa
a.       Miskin akan kosa kata
b.      Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan, atau idiomatic
c.       Tatabahasanya kurang teratur
3.    Intelektual
a.       Kemampuan intelektualnya normal
Pada dasarnya anak-anak tunarungu tidak mengalami permasalahan dalam segiintelektual. Namun akibat keterbatasan dalam berkomunikasi dan berbahasa, perkembangan intelektual menjadi lamban.
Perkembangan akademiknya lamban akibat keterbatasan bahasa. Seiring terjadinya kelambanan dalam perkembangan intelektualnya akibat adanya hambatan dalam berkomunikasi, maka dalam segi akademiknya juga mengalami keterlambatan.
4.    Sosial-emosional
a.       Sering merasa curiga dan syak wasangka Sikap seperti ini terjadi akibat adanya kelainan fungsi pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami apa yang dibicarakan oranglain, sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga.
b.      Sering bersikap agresif.

Suparno dan Heri Purwanto.Pendidikan Anak Kebutuhan Khusus. file:///C:/Users/PIC/Downloads/Documents/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf
3.    Anak Tunadaksa
Anak tunadaksa adalah kelainan yang meliputi cacat tubuh atau kerusakan tubuh, kelainan atau kerusakan pada fisik dan kesehatan dan kelainanan atau kerusakan yang disebabkan oleh kerusakan otak dan saraf tulang belakang (Hargeo, 2012:47)
A.  Klasifikasi Anak Tunadaksa
Klasifikasi anak tunadaksa terdiri dari kelainan pada sistem serebrai (cerebral sistem disorders). Penyebabnya kelahiran yang terletak pada sistem saraf pusat. Cerebral palsy digolongkan menjadi tiga yaitu: derajat kecacatan, topografi dan fisiologi kelaianan gerak.
1.    Penggolongan cerebral palsy menurut derajat kecacatan:
a.       Golongan ringan adalah, mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas dan dapat menolong dirinya sendiri.
b.      Golongan sedang ialah, mereka yang membutuhkan treatment atau latihan untuk berbicara, belajar dan mengurus dirinya sendiri.
c.       Golongan berat, golongan ini selalu memerlukan perawatan dalam ambulance, bicara dan menolong diri sendiri.
2.    Golongan cerebral palsy menurut topografi monoplegia, adalah kecacatan satu anggota gerak, kaki kanan:
a.       Hemiplegia adalah lumpuh anggota gerak atas dan bawah, tangan kanan dan kaki kanan.
b.      Paraplegi adalah lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
c.       Diplegi adalah lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri.
d.      Kuadriplegi adalah kelumpuhan keseluruhan anggota geraknya.
3.    Golongan menurut fisiologi:
a.       Cerebral palsy ringan, mereka menderita cerebral palsy ringan hanya memiliki sedikit penurunan, gejala tidak begitu jelas dan biasanya tidak begitu terlihat.
b.      Cerebral palsy spastik ini adalah kasus cerebral palsy yang umum. Ia mempengaruhi sekitar 80%  dari semua kasus cerebral palsy. Ada kerusakan pada konteks motor yang akan menyebabkan otot ata kelompok otot ketat dan kaku, hal ini akan membatasi gerak misalnya anak-anak akan sulit untuk memegang benda.
c.       Cerebral palsy athetoid, spastik adalah yang paling umum, athetoid mencakup 10%  dari kasus-kasus cerebral palsy,. Kerusakan otak akan berada pada bagian-bagian yang mengkoordinasikan gerakan tubuh dan pada saat yang sama mempertahankan postur tegak. Mereka yang menderita cerebral palsy athethoid menemukan bahwa wajah mengalami wajah tak terkendali. Bicara ahampir tak dipahami dan makanan sulit untuk ditelan. Selain itu, orang yang terpengaruh dengan ini juga mengalami masalah dengan penglihatan.
d.      Cerebral palsy ataxic, bentuk cerebral palsy yang agak jarang, hanya sekitar 5-10% dari jumlah total pasien cerebral palsy yang menderita ini. Mereka yang menderita ini akan mengalami pembentukan dan pembangunan otot yang buruk. Koordinasi juga sangat sulit. Mereka juga cenderung memiliki pegangan yang sangat gemetar.
e.       Cerebral palsy tremor, suatu gerakan gemetar yang berirama dan tidak terkendali, yang terjadi karena otot berkontaksi dan berileksasi secara berulang-ulang,
f.       Cerebral palsy rigid, suatu keadaan kontraksi otot yang persisten, yang sering dijumpai dalam keadaan terhipnotis dan akibat gangguan patologis.
g.      Cerebral palsy campuran adalah kombinasi dari berbagai jenis cerebral palsy.
Anak normal memiliki kemampuan menyesuaikan gerakan dengan tujuan yang dimaksudkan, sedangkan anak cerebral palsy gerakan terbatas. Gerakan menonton (stereotype) dan asal gerak, yang penting dapat melakukan gerakan. Jika anak mulai dengan pola yang  gerakan yang salah, maka ia akan meneruskannya dan mengabaikan gerakan yang salah tersebut. Hal ini menghambat perkembangan fisik yang normal dan kesalahan gerakan yang berulang – ulang akan menimbulkan kekakuan sendi (contracture) dan salah bentuk (derformities).


B.  Karakteristik Tuna Daksa
Menurut Suparno dan Heri Purwanto dalam file:///C:/Users/PIC/Downloads/Documents/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf karakteristik  anak tunadaksa adalah:
1.    Gangguan Motorik
Gangguan motoriknya berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis dan gangguan keseimbangan. Gangguan motorik ini meliputi motorik kasar dan motorik halus.
2.    Gangguan Sensorik
Pusat sensoris pada manusia terleakotak, mengingat anak cerebral palsy adalah anak yang mengalami kelainan di otak, maka sering anak cerebral palsy disertai gangguan sensorik, beberapa gangguan sensorik antara lain penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan perasa. Gangguan penglihatan pada cerebral palsy terjadi karena ketidakseimbangan otot-otot mata sebagai akibat kerusakan otak. Gangguan pendengaran pada anak cerebral palsy sering dijumpai pada jenis athetoid.
3.Gangguan Tingkat Kecerdasan
Walaupun anak cerebral palsy disebabkan karena kelainan otaknya tetapi keadaan kecerdasan anak cerebral palsy bervariasi, tingkat kecerdasan anak cerebralpalsy mulai dari tingkat yang paling rendah sampai gifted. Sekitar 45% mengalami keterbelakangan mental, dan 35% lagi mempunyai tingkat kecerdasan normal dan diatas rata-rata. Sedangkan sisanya cenderung dibawah rata-rata (Hardman, 1990).
4.Kemampuan Berbicara
Anak cerebral palsy mengalami gangguan wicara yang disebabkan oleh kelainan motorik otot-otot wicara terutama pada organ artikulasi seperti lidah, bibir, dan rahang bawah, dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadi proses interaksi dengan lingkungan. Dengan keadaan yang demikian maka bicara anak-anak cerebral palsy menjadi tidak jelas dan sulit diterima orang lain.
5.Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap masyarakat terhadap kelainan pada anak cerebral palsy, mempengaruhi pembentukan pribadi anak secara umum. Emosi anak sangat bervariasi, tergantung rangsang yang diterimanya. Secara umum tidak terlalu berbeda dengan anak–anak normal, kecuali beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dapat menimbulkan emosi yang tidak terkendali. Sikap atau kurangnya penerimaan masyarakat terhadap anak cerebral palsy dapat memunculkan keadaan anak yang merasa malu,  rendah diri atau kepercayaan dirinya kurang, mudah tersinggung/ sensitif, dan suka menyendiri, serta kurang dapat menyesuaiakan diri dan bergaul dengan lingkungan. Sedangkan  anak anak yang mengalami kelumpuhan yang dikarenakan kerusakan pada otot motorik yang sering diderita oleh anak-anak pasca polio dan muscle dystrophy lain mengakibatkan gangguan motorik terutama gerakan lokomosi, gerakan ditempat, dan mobilisasi. Ada sebagian anak dengan gangguan gerak yang berat, ringan, dan sedang. Untuk berpindah tempat perlu alat ambulasi, juga perlu alat bantu dalam memenuhi kebutuhannya, yaitu memenuhi kebutuhan gerak. Dalam kehidupan sehari-hari anak perlu bantuan dan alat yang sesuai. Keadaan kapasitas kemampuan intelektual anak gangguan gerak otot ini tidak berbeda dengan anak normal.
            Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa, guru mempunyai peranan sebagai pengajar, pendidik dan pelatih. Pelayanan terapi yang diperlukan anak tunadaksa antara lain: latihan berbicara, fisioterapi, occupational therapy dan hydro therapy. Anak tunadaksa pada dasarnya sama dengan anak normal pada umumnya, hanya pada aspek psikologi sosial mereka membutuhkan rasa aman dalam bermobilisasi dalam kehidupan nya.
Model layanan pendidikan bagi anak tunadaksa dibagi pada sekolah khusus atau inklusi. Sekolah yang diperuntukkan  bagi anak yang mempunyai problema yang lebih berat bagi intelektualnya maupun emosinya.
Suparno dan Heri Purwanto.Pendidikan Anak Kebutuhan Khusus. file:///C:/Users/PIC/Downloads/Documents/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf
C.  Penyebab anak Tunadaksa
Penyebab tunadaksa dilihat saat terjadinya kerusakan otak yang terjadi pada:
1.      Masa sebelum lahir, antara lain: terjadi infeksi penyakit, kelainan kandungan, kandungan radiasi, saat mengandng mengalami trauma ( kecelakaan),
2.      Pada saat kelahiran, antara lain: proses kelahiran terlalu lama, proses kelahiran yang mengalami kesulitan, dan pemakaian anestesi, yang melebihi ketentuan.
3.      Setelah proses kelahiran, antara lain: kecelakaan, infeksi penyakit, dan ataxia.

4.    Tuna Wicara
A.      Pengertian Tunawicara
Menurut Heri Purwanto (Ortopedagogik Umum, 1998) dalam http://fathinfauziah.blogspot.com/2012/11/makalah-anak-tunawicara.html  tuna wicara adalah apabila seseorang mengalami kelainan baik dalam pengucapan (artikulasi) bahasa maupun suaranya dari bicara normal, sehingga menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi lisan dalam lingkungan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.




B.  Faktor Penyebab Tuna Wicara
Drs.Sardjono mengutip (Moh. Amni dkk,1979,hal 23) dalam http://fathinfauziah.blogspot.com/2012/11/makalah-anak-tunawicara.html  Anak tunawicara dapat terjadi karena gangguan  ketika :
1.     Gangguan pre natal
a.       Hereditas (keturunan)
          Yaitu apabila anak tunawicara sejak dalam kandungan karena diantara keluarga terdapat tunawicara atau membawa gen tunawicara sehingga ketika lahir anak tersebut memiliki gangguan tunawicara. Ini disebut dengan tuli genetis. Perbedaan rhesus ayah dan ibu juga dapat menyebabkan abnormalitas pada kelahiran anak.
b. Anoxia
          Kekurangan oksigen dalam janin dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan syaraf yang menyebabkan ketidaksempurnaan organ salah satunya aorgan bicara seperti pita suara,tenggorokan,lidah,dan mulut.
2.    Gangguan neo natal
a.     Prematur
Bayi-bayi prematur yang lahir dengan berat badan tidak normal dan lahir dengan organ tubuh yang belum sempurna dapat mengakibatkan kebisuan yang kadang disertai ketulian. Kurangnya berat pada ketika lahir juga dapat menyebabkan jaringan-jaringan
3.    Gangguan pos natal
a.    Infeksi
          Sesudah dilahirkan anak menderita infeksi misalnya campak yang menyebabkan tuli preseftik,virus akan mennyerang cairan koklea,menyebabkan anak menderita otitis media (koken). Akibat yang sama akan terjadi bila anak menderita scaerlet fever,dipteri, batuk hejang atau tertular sifilis.
b.    meningitis(radang selaput otak)
            Penderita akan mengalami kelainan pada pusat syraf pendengaran dan akan mengalami ketulian perseptif.
c.    infeksi alat pernafasan
            Seseorang dapat menjadi tuna wicara apabila terjadi gangguan pada organ pernafasan seperti paru-paru, laring, atau gangguan pada mulut dan lidah.

Drs.Sardjono mengutip (Moh. Amni dkk,1979,hal 23) dalam http://fathinfauziah.blogspot.com/2012/11/makalah-anak-tunawicara.html 

C.  Klasifikasi Tunawicara
Heri Purwanto (Ortopedagogik Umum, 1998), dalam http://fathinfauziah.blogspot.com/2012/11/makalah-anak-tunawicara.html mengemukakan tunawicara secara umum diklasifikasikan menjadi 4 bagian,yaitu:
1.    Keterlambatan bicara (Delayed speech ), Yaitu seseorang yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicaranya jika dibandingkan dengan anak seusianya.
2.    Gagap (stuttering), Yaitu:kelainan dalam memulai pembicaraan dapat berupa:
a.       Pemanjangan fonom atau suku kata depan (prolongation),
b.      Pengulangan suku kata depan ( repetition ),
c.       Gerak  mulut berbicara namun tidak keluar suara ( silent struggle )
d.      Anak dengan kekacauan dalam berbicara (cluttering), biasanya berupa bicara terlalu cepat, struktur kalimat tidak karuan, repitisi berlebihan.
3.    kehilangan kemapuan berbahasa(disphasia), Yaitu kehilangan kemampuan berbahasa mulai dari kesalahan dalam inti pembicaraan sampai tidak dapat bebicara sama sekali.
4.    Kelainan suara(voice disorder), Ditandai dengan perbedaan suara dengan anak normal. Adapun kelainan suara berupa:
a.       Kelainan nada(pitch)
b.      Kelainan nada bicara dapat berupa nada terlalu tinggi, terlalu rendah, atau monoton.
c.       Kelainan kualitas suara, Kelainan kualitas atau warna suara berupa serak, lemah, atau desah.
d.      Kelainan keras lembutnya suara, Kelainan ini dapat berupa suara keras ataupun suara lembut
D.  Karakteristik tuna wicara
Menurut Heri Purwanto (Ortopedagogik umum ,1998) dalam http://fathinfauziah.blogspot.com/2012/11/makalah-anak-tunawicara.html  yang merupakan karakterisktik anak tunawicara adalah :
1.     Karakteristik bahasa dan wicara, Pada umumnya anak tunawicara  memiliki kelambatan dalam perkembangan bahasa wicara bila dibandingkan dengan perkembangan bicara anak-anak normal.
2.    Kemampuan intelegensi, Kemamapuan intelegensi (IQ) tidak berbeda dengan anak-anak normal, hanya pada skor IQ verbalnya akan lebih rendah dari IQ performanya
3.     Penyesuaian emosi,sosial dan perilaku
4.    Dalam melakukan interaksi sosial di masyarakat banyak mengandalkan komunikasi verbal, hal ini yang menyebabkan tuna wicara mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosialnya.Sehingga anak tunawicara terkesan agak eksklusif atau terisolasi dari kehidupan masyarakat normal.
5.    Sedangkan yang  merupakan ciri-ciri fisik dan psikis anak tunawicara adalah: Berbicara keras dan tidak jelas, Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya, Telinga mengeluarkan cairan, Biasanya Menggunakan alat bantu dengar, Bibir sumbing, Suka melakukan gerakan tubuh,  Cenderung pendiam, Suara sengau, Cadel.    

E.  Hambatan yang dialami anak tunawicara
Anak  tunawicara memiliki keterbatasan dalam berbicara atau komunikasi verbal, sehingga mereka memiliki hambatan dan kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan apa yang ingin mereka rasakan. Kesulitan dalam berkomunikasi akan semakin parah apabila anak tunawicara ini menderita tungarungu juga. Adapun hambatan - hambatan yang sering ditemui pada anak tuna wicara :
a.    Sulit berkomunikasi dengan orang lain
b.    Sulit bersosialisasi.
c.    Sulit mengutarakan apa yang diinginkannya.
d.   Perkembangan pskis terganggu karena merasa berbeda atau minder.
e.    mengalami gangguan dalam perkembangan intelektual, kepribadian, dan kematangan sosial.

B.Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Emosi (Tunalaras)
A.  Pengertian Anak Tunalaras
Istilah tunalaras berasal dari kata “tuna” yang berarti kurang dan “laras” yang berarti sesuai. Jadi, anak tunalaras berarti anak yang bertingkah laku kurang/ tidak sesuai dengan lingkungan. Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat tempat ia berada. Anak tunalaras sering disebut dengan anak tuna sosial karena tingkah laku mereka menunjukkan pertentangan yang terus menerus terhadap norma-norma masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu dan menyakiti orang lain. (Soemantri, 2006) dalam http://ericha-wardhani.blogspot.com/2012/05/karakteristik-anak-tunalaras-menurut.html
Istilah yang digunakan untuk anak yang berkelainan perilaku (anak tunalaras) dalam konteks kehidupan sehari-hari di kalangan praktisi sangat bervariasi. Perbedaan pemberian julukan kepada anak yang berperilaku menyimpang tidak lepas dari konteks pihak yang berkepentingan. Misalnya, para orangtua cenderung menyebut anak tunalaras denga istilah anak jelek (bad boy), para guru menyebutnya dengan anak yang tidak dapat diperbaiki (incurrigible), para psikiater/psikolog lebih senang menyebut dengan anak yang terganggu emosinya (emotional disturb child), para pekerja sosial menyebutnya sebagai anak yang tidak dapat mengikuti aturan atau norma sosial yang berlaku (social maladjusted child), atau jika mereka berurusan dengan hukum maka para hakim biasa menyebutnya sebagai anak-anak pelanggar/penjahat (deliquent). Terlepas dari julukan yang diberikan kepada para tunalaras, secara substansial kesamaan makna yang terdapat pada pemberian “gelar” pada anak tunalaras, disamping menunjuk pada cirinya yaitu terdapatnya penyimpangan yyang berlaku di lingkungannya. (Sunardi, 1985),
Menurut ketentuan Undang-Undang Pokok Pendidikan No. 12 Tahun 1952, anak tuna laras adalah individu yang mempunyai tingkah laku menyimpang/ berkelainan, tidak memiliki sikap, melakukan pelanggaran terhadap peraturan/ norma-norma sosial dengan frekuensi cukup besar, tidak/ kurang mempunyai toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh suasana, sehingga membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam dokumen kurikulum SLB bagian E tahun 1977 menyebutkan, yang disebut tuna laras adalah:
1.    anak yang mengalami gangguan/ hambatan emosi dan tingkah laku sehingga tidak/ kurang menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan, sekolah, maupun masyarakat.
2.    anak yang mempunyai kebiasaan melanggar norma umum yang berlaku dimasyarakat.
3.    anak yang melakukan kejahatan.

Jika seseorang mempunyai tingkat penyesuaian normal secara kronologis, dapat dipastikan, menjadi anak yang kurang dapat menyesuaikan diri dan berperilaku menyimpang.
Identifikasi terhadap kasus kelainan perilaku menyimpang dapat juga dipakai sebagai patokan untuk menggunakan program penyembuhan. Sebagai contoh:
1.    jika seorang anak mempunyai masalah psikologi maka diperlukan model psikoanalitis yang lebih menekan kan pada psikodinamis.
2.    Jika anak menunjukkan penyimpangan prilaku dalam masyarakat maka perlu penanganan dengan model prilaku, yaitu dengan cara memodifikasi untuk belajar berprilaku yang benar daripada membetulkan kasus-kasusnya.
3.    Type perilaku yang tampak, merupakan refleksi-refleksi dari perasaan diri seperti marah, sering menemui kegagalan, takut, frustasi, konsep diri yaang kurang, tidak merasa aman, merasa diacuhkan orang lain. Perilaku semacam ini sering diikuti dengan masalah-masalah lain berkaitan dengan kegagalan dalam belajar dan berbicaranya gagap.

Ada tiga perilaku utama yang tampak pada seorang anak dengan kelainan perilaku menyimpang, yaitu: Agresif, suka menghindar diri dari keramaian, dan sikap bertahan diri. 
B.  Klasifikasi Anak Tunalaras
Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan sebagai anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan yang mengalami gangguan emosi. Tiap jenis kelainan anak tersebut dapat ditinjau dari segi gangguan atau hambatan dan klasifikasi berat ringan nya kenakalan, dengan penjelasan sebagai berikut:
1.    Menurut jenis ganguan atau hambatan
a.       Gangguan emosi, anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi terwujud dalam tiga jenis perbuatan yaitu, senang-sedih, lambat-cepat marah, dan rileks-tekanan. Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atu marah, rasa tertekan dan merasa cemas.
b.      Gangguan sosial, anak ini mengalami gangguan atu merasa kurang senang menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup bergaul. Gejala-gejala perbuatan ini adalah seperti sikap bermusuhan, agresif, bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang, menghina orang lain, berkelahi, merusak milik orang lain, dan lain sebagainya. Perbuatan mereka sangat mengganggu ketentraman orang lain.
2.    Klasifikasi berat-ringan nya kenakalan
a.       Besar-kecilnya gangguan emosi, artinya semakin tinggi memiliki perasaan negatif terhadap orang lain makin dalam rasa negatif semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut.
b.      Frekuensi tindakan, artinya frekuensi tindakan semakin sering dan tidak menunjukkan sikap penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat kenakalan nya.
c.       Berat-ringan nya pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari sangsi hukum.
d.      Tempat atau situasi kenakalan yang dilakukan atinya anak berani berbuat kenakalan dimasyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila dia dirumah.
e.       Mudah-sukarnya dipengaruhi untuk bertingkah laku baik. Para pendidik atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak bandel dan keras kepala sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
f.       Tunggal atu ganda ketunaan yang dialami, apabila seorang anak tunalaras juga mempunyai ketunaan  lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaan nya.

Selain itu, William M. Cruickshank (1975 : 567) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya mengemukakan bahwa mereka yang mengalami hambatan sosial dapat diklasifikasikan kedalam kategori sebagai berikut :
1.    The semi-socialize child.
Anak yang termasuk kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial, tetapi terbatas pada lingungan tertentu, misalnya : keluarga dan kelompoknya.  Keadaan ini terjadi pada anak yang datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2.    Children arrested at a primitive level or socialization
Anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya berhenti pada level atau lingkaran yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan ke arah sikap sosial dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari orang tua yang berakibat dari perilaku anak kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja.
3.    Children with minimum socialization capacity
Anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersifat apatis dan egois.
Demikian pula anak yang mengalami gangguan emosi dapat diklasifikasikan menurut berat/ ringannya masalah atau gangguan yang dialaminya. Anak ini mengalami kesulitan dalam menyesuaikan tingkah laku dengan lingkungan sosialnya karena ada tekanan-tekanan dari dalam dirinya, adapun anak yang mengalami gangguan emosi diklasifikasikan sebagai berikut :
a.    Neorotic behaviour (perilaku neurotik).
Anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai permasalahan pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah sekali dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan marah, cemas dan agresif, serta rasa besalah. Disamping juga kadang-kadang mereka melakukan tindakan lain seperti yang dilakukan oleh anak Unsocialized (mencuri, bermusuhan), anak pada kelompok ini dapat dibantu dengan terapi seorang konselor.
Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh keadaan atau sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang besar.
b.    Children with psychotic processes
Anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan.
C.  Karakteristik Anak Tunalaras
            Karakteristik yang dikemukakan oleh Hallahan & Kauffman (1986) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak tuna laras dan karakteristiknya/  berdasarkan dimensi tingkah laku anak tunalaras adalah sebagai berikut:
1.    Anak yang mengalami kekacauan tingkah laku, memperlihatkan cirri-ciri: suka berkelahi, memukul, menyerang, mengamuk membangkang, menantang, merusak milik sendiri atau milik orang lain, kirang ajar, lancang, melawan, tidak mau bekerja sama, tidak mau memperhatikan, memecah belah, rebut, tidak bias diam, menolak arahan, cepat marah, menganggab entengg, sok aksi, ingin menguasai orang lain, mengancam, pembohong, tidak dapat dipercaya, suka berbicara kotor, cemburu, suka bersoal jawab, tak sanggub berdikari, mencuri, mengejek, menyangkal, berbuat salah, egois, dan mudah terpengaruh untuk berbuat salah.
2.    Anak yang sering merasa cemas dan menarik diri, dengan cirri-ciri khawatir, cemas, ketakutan, kaku, pemalu, segan, menarik diri, terasing, tak berteman, rasa tertekan, sedih, terganggu, rendah diri, dingin, malu, kurang percaya diri, mudah bimbang, sering menangis, pendiam, suka berahasia.
3.    Anak yang kurang dewasa, dengan cirri-ciri, yaitu pelamun, kaku, berangan-angan, pasif, mudah dipengaruhi, pengantuk,pembosan, dan kotor.
4.    Anak yang agresif bersosialisasi, dengan cirri-ciri, yaitu mempunyai komplotan jahat, mencuri bersama kelompoknya, loyal terhadap teman nakal, berkelompok dengan geng, suka diluar rumah sampai larut malam, bolos sekolah, dan minggat dari rumah. 
Dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan karakteristiknya/ dikemukakan karakteristik yang berkaitan dengan segi akademik, social/emosional, fisik/kesehatan anak tunalaras.
a.    Karakteristik Akademik,
Kelainan perilaku akan mengakibatkan adanya penyesuaian social dan sekolah yang buruk. Akibat penyesuaian yang brurk tersebut maka dalam belajarnya memperlihatkan cirri-ciri sebagai berikut.
1.      Pencapaian hasil belajar yang jauh dibawah rata-rata
  1. Seringkali dikirim ke kepala sekolah atau ruangan bimbingan untuk tindakan discipliner.
  2. Seringkali tidak naik kelas atau bahkan ke luar sekolahnya
  3. Sering kali membolos sekolah
  4. Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan dengan alasan sakit, perlu istirahat
  5. Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat panggilan dari petugas kesehatan atau bagian absensi
  6. Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi
  7. Lebih sering menjalani masa percobaab dari yang berwenang
  8. Lebih sering melakukan pelanggaran hokum dan pelanggaran tanda-tanda lalu lintas
  9. Lebih sering dikirim ke klinik bimbingan.
b.    Karakteristik Sosial/Emosional, Karakteristik social/emosional anak tunalaras dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.      Karakteristik social
a.    Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain, dengan cirri-ciri: perilaku tidak diterima oleh masyarakat dan biasanya melnggar norma budaya, dan perilaku melanggar aturan keluarga, sekolah, dan rumah tangga.
b.    Perilaku tersebut ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak mengikuti aturan, bersifat mengganggu, mempunyai sikap membangkang atau menentang, dan tidak dapat bekerja sama.
2.      Karakteristik emosional
a.    Adanya hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, seperti tekanan batin dan rasa cemas.
b.    Adanya rasa gelisah, seperti rasa malu, rendah diri, ketakutan, dan sangat sensitive atau perasa.


c.    Karakteristik Fisik/Kesehatan
Karakteristik fisik/kesehatan anak tunalaras ditandai dengan adanya gangguan makan, gangguan tidur, dan gangguan gerakan (tik). Seringkali anak merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada jasmaninya, ia mudah mendapat kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatannya, merasa seolah-olah sakit. Kelainan lain yang berwujud kelainan fisik, seperti gagap, buang air tidak terkendali, sering mengompol dan jorok.
D.  Faktor-Faktor Penyebab Ketunalarasan
Penelitian tentang penyebab terjadinya kelainan perilaku atau ketunalarasan telah banyak dilakukan. Dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/ penyebab terjadinya ketunalarasan dapat diklasifikasikan, yaitu: (1) faktor penyebab bersifat internal, dan (2) faktor penyebab yang bersifat eksternal. Faktor penyebab internal adalah faktor-faktor yang langsung berkaitan dengan kondisi individu itu sendiri, seperti keturunan, kondisi fisik dan psikisnya. Sedangkan faktor penyebab eksternal adalah faktor-faktor yang bersifat di luar individu terutama lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah (Patton, 1991).
1.    Faktor Internal
a.    Kondisi/Keadaan Fisik
            Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
            Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari lingkungan. Sebagai akibatnya, timbul perasan rendah diri, perasaan tidak berdaya/tidak mampu, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan kelainannya untuk menarik belas kasihan lingkungan. Dengan demikian jelaslah bahwa kondisi/keadaan fisik yang dinyatakan secara langsung dalam ciri-ciri kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi menghadapi kenyataan memiliki implikasi bagi penyesuaian diri seseorang. 

b.    Masalah Perkembangan
Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa, 1985:107) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat mnyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut  maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak-kanak dan pubertas.
Adapun ciri yang menonjol pada masa kritis ini adalah sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena anak yang sedang menemukan ‘aku’-nya. Anak jadi marasa tidak puas dengan otoritas lingkungan sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang, memberontak, dan keras kepala.
c.    Keturunan
Salah satu hasil penelitian spektakuler di bidang biologi tentang rekayasa genetika telah dibuat mendell. Hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa keturunan mempunyai peranan kuat dalam meahirkan generasi berikutnya.implementasi teori tersebut dalam identifikasi ketunalarasan bahwa keturunan memberikan banyak bukti bayi yang dilahirkan dalam keadaan abnormal berasal dari keturunan yang abnormal pula. Keabnormalan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang tuanya memberikan konstribusi ketunalarasan kepada generasi berikutnya (Patton, 1991). Beberapa perilaku menyimpang tersebut diantaranya kawin sedarah, seks maniak, alkoholisme, kleptomania, gangguan kepribadian, dan lain-lain.
d.   Faktor Psikologis
Meier dalam penelitiannya, menghubungkan antara variabel frustasi dengan perilaku abnormal memperoleh kesimpulan bahwa seorang yang mengalami kesulitan memecahkan persoalan akan menimbulkan perasaan frustasi. Akiat frustasi tersebut akan timbul konflik kejiwaan. Bagi individu yang memiliki stabilitas kepribadian yang baik, konflik psikologis tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Namun, bagi mereka yang memiliki kepribadian neurotik, konflik tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. Akibatnya, timbul perilaku menyimpsng sebagai defence mechanism. Perilaku-perilaku tersebut diantaranya agresivisme (suka memberontak, mencela, memukul, merusak), regresivisme (perilaku yang kekanak-kanakan), resignation (perilaku yang kehilangan arah karena ketidakmampuan mewujudkan keinginannya karena tekanan otoritas).
e.    Faktor Biologis
Hubungan faktor biologis secara khusus dengan keadaan kelainan perilaku dan emosi sangat jarang ditemukan, sebab kelainan perilaku dan kelainan emosi tidak dapat dideteksi melalui kerusakan biologis. Adakalanya perilaku anak termasuk normal, tetapi yang bersangkutan mengalami kerusakan biologis serius; dan sebaliknya anak secara fisik normal , tetapi menunjukkan gangguan emosi dan perilaku secara serius. Hal yang pasti adalah anak lahir dengan kondisi fisik biologis tertentu akan menentukan style perilaku (temperamen). Anak yang mengalami kesulitan menempatkan temperamennya, akan memberikan kecenderungan untuk berkembangnya kondisi kelainan perilaku dan emosi. Faktor-faktor yang memberikan konstribusi terhadap buruknya temperamen seseorang antara lain penyakit, malnutrisi, trauma otak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Dari pemeriksaan electro encephalogram (EEG) ditemukan, bahwa hasil EEG dari anak-anak yang melakukan perbuatan menyimpang ada kelainan. Pada orang dewasa kelainan EEG diketahui pada orang-orang yang telah melakukan perbuatan kriminal. Kelainan hasil EEG  tersebut merupakan indikasi jika salah satu bagian otak mengalami kerusakan (brain damage), secara fisiologis fungsi otak tersebut menjadi kurang/ tidak sempurna (brain disfunction). Selain itu, kelainan pada kelenjar hyperthyroid menyebabkan anak sukar menyesuaikan diri dan mengalami gangguan emosi. (Kirk, 1970).
2.    Faktor eksternal
a.    Faktor Psikososial
Sigmund Freud melaui psikoanalisisnya menjelaskan bahwa ketunalarasan disebabkan pengalaman anak pada usia awal. Pengalaman tidak menyenangkan pada usia awal mengakibatkan anak menjadi tertekan dan secara tidak disadari berpengaruh pada penyimpangan perilaku.  Pengalaman anak di rumah seperti kualitas hubungan antara ayah, ibu, serta saudara sekandungnya memberikan pengaruh yang besar pada perilaku anak. Hubungan interaksional dan transaksional menyebabkan saling memengaruhi antara anak dengan orang tua, sehingga jika pada anak terdeteksi mengalami masalah kelainan perilaku dapat dialamatkan pada orang tuanya (Sameroff, Steifer, Zax, 1982) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/ Orang tua yang lemah dalam menegakkan disiplin anak, yang ditandai dengan penolakan, bermusuhan, kekejaman, dapat menumbuhkan perilaku yang menyimpang seperti agresif atau kejahatan lainnya (Hallahan & Kauffman, 1991).
b.    Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah peletak dasar perasaan aman (emitional security) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku pada anak. Faktor yang terdapat dalam keluarga yang berkaitan dengan ganguan emosi dan tingkah laku, diantaranya yaitu:
a.       Kasih sayang dan perhatian
Kasih sayang dan perhatian orang tua dan anggota keluarga lain sangat dibutuhkan oleh anak. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua mengakibatkan anak mencarinya diluar rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawanya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Mengenai hal ini Sofyan S. Willis (1981) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/ mengemukakan bahwa mereka berkelompok untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama, antara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat.
Selain sikap diatas, tidak jarang diantara orang tua justru memberikan kasih sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan. Sikap memanjakan menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pada anak.
b.      Keharmonisan keluarga
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk & Gallagher, 1986) dalam menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang mengalami perceraian orang tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit. Orang tua yang sering berselisih paham dalam menerapkan peraturan atau disiplin dapat menimbulkan keraguan pada diri anak akan kebenaran suatu norma, sehingga anak akhirnya mencari jalan sendiri dan hal ini dapat saja menjadi awal dari terjadinya gangguan tingkah laku.

c.       Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui pada diri anak timbul keinginan-keinginan untuk dapat menyamai temannya yang lain, misalnya: dalam berpakaian, kebutuhan akan hiburan, dan lain-lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut dalam keluarga dapat mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak tuna laras dan karakteristiknya/ menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.
d.    Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga bertanggung jawab membina kepribadian anak didik sehingga menjadi individu dewasa yang bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi sekolah tidak jarang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku pada anak seperti dikemukakan Sofyan Willis (1978)dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/ bahwa dalam rangka membina anak didik kearah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain disebabkan dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan, fasilitas penunjang yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran pada saat ia seharusnya berada dalam kelas. Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan tindakan yang menentang peraturan.
Selain guru, fasilitas pendidikan juga berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas pendidikan berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik utuk menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktivitasnya pada hal-hal yang kurang baik.
a.    Lingkungan Masyarakat
Lingkungan tempat anak berpijak sebagai makhluk sosial adalah masyarakat. Menurut Bandura (dalam Kirk & Gallagher, 1986) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/ salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu menirukan perilaku orang lain. Disamping pengaruh-pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negatif ditambah hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dimana berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak tersaring oleh budaya lokal.
Ekspresi lain dari kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang berpengaruh terhadap kelainan perilaku (tunalaras) anak diantaranya daerah yang terlalu padat, angka kejahatan tinggi, kurangnya fasilitas hiburan/rekreasi, tidak adanya aktivitas yang terorganisasi (Moerdiani, 1987) dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya kurangnya pengajaran agama oleh masyarakat, pengaruh bacaan/film video porno atau sadisme, pengaruh penyalahgunaan abat-obatan terlarang (nafza), dan minuman keras.
Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut oleh masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang sifatnya negatif. Di satu pihak remaja menganggap bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara di pihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber adat istiadat dan agama. Selanjutnya konflik juga timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah atau di keluarga bertentangan dengan norma dan kenyataan di dalam masyarakat. Misalnya: seorang dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat dimana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai. 
E.  Perkembangan Kognitif, Kepribadian, Emosi, dan Sosial Anak Tunalaras
1.    Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah. Memang anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena diantara anak yang tunalaras juga ada yang mengalami keterbelakangan mental. Kelemahan dalam perkembangan kecerdasan ini justru yang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku. Masalah yang dihadapi anak dengan intelegensi rendah di sekolah adalah ketidakmampuan untuk menyamai teman-temannya, padahal pada dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan kelompoknya terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar. Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa (1982)dalam https://phierda.wordpress.com/2012/11/04/anak-tuna-laras-dan-karakteristiknya/ mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara penyesuaian yang wajar.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya: membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan sebagainya. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah laku adalah ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi serta mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif.
Disamping anak yang berintelegensi rendah, tidak berarti anak yang memiliki intelegensi tinggi tidak memiliki masalah. Anak berintelegensi tinggi seringkali memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Ketidaksejajaran antara pekembangan intelegensi dengan kemampuan sosial mengakibatkan anak mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok anak yang lebih tua (tetapi setara dalam kemampuan mentalnya). Anak yang pintar dengan hambatan ego emosional seringkali mempunyai anggapan negatif terhadap sekolah. Ia menganggap sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan terlalu lambat.
Masalah lain yang dihadapi anak ini dalam hubungannya dengan orang lain adalah sikap tidak mau kalah. Mereka selalu ingin berhasil dan tidak mau ikut dalam permainan dengan kemungkinan dikalahkan orang lain. Hal ini nampak dari sikap anak yang selalu ingin lebih unggul dari teman-temannya sehingga apabila suatu waktu dia mengalami kekalahan, maka ia cenderung untuk selalu merasa mudah kecewa. 
2.    Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras
Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian akan menjadi penyebab seseorang berperilaku menyimpang. Menifestasi kepribadian yang teramati tampak dalam interaksi individu dengan lingkungannya, dan pada dasarnya interaksi ini sebagai upaya bentuk pemenuhan kebutuhan.
Tingkah laku yang ditampilkan orang ini erat sekali kaitannya dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Sejak lahir setiap individu sudah dibekali dengan berbagai kebutuhan dasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan, dan untuk itu setiap individu senantiasa berusaha memenuhinya yang diwujudkan dalam berbagai lingkungannya. Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu. Selanjutnya mendorong terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu. Keadaan seperti ini yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu. Apabila keadaan ini berkepanjangan maka dapat menimbulkan gangguan.
3.    Perkembangan Emosi Anak Tunalaras
Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat emosional. Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi sebagai akibat ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase perkembangan.
Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi-emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak.ia semakin banyak merasakan berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang  mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat mengerti dan menghayati perasaan orang lain. Mereka juga kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik sehingga seringkali terjadi peledakan emosi. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya: mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya. Perasaan-perasaan seperti itu akan mengganggu situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 
4.    Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya. Hal ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan sosial dengan semua orang. Dalam banyak kejadian ternyata mereka dapat menjalin hubungan sosial yang sangat erat dengan teman-temannya. Mereka mampu membentuk suatu kelompok yang kompak dan akrab serta membangun keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya. 



PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahsan diatas dapat disimpulkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus berkelainan fisik meliputi:
1.    Anak tunanetra
a.    Klasifikasi anak tunanetra
Anak tunanetra adalah anak-anak yang mengalami kelainan atau gangguan fungsi penglihatan, yang dinyatakan dengan tingkat ketajaman penglihatan atau visus sentralis diatas 20/200 dan secara pedagogis membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di sekolah.
b.    Yang menjadi karakteristik anak-anak tunanetra antara lain dapat dilihat dari segi fisik, segi motorik, perilaku, akademik, pribadi dan sosial.
2.    Anak tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki karakteristik yang khas, berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Yang menjadi karakteristik anak-anak  tunarungu antara lain dapat dilihat dari segi fisik, segi bahasa, intelektual, sosial-emosional.
3.    Anak tunadaksa
Anak tunadaksa adalah kelainan yang meliputi cacat tubuh atau kerusakan tubuh, kelainan atau kerusakan pada fisik dan kesehatan dan kelainanan atau kerusakan yang disebabkan oleh kerusakan otak dan saraf tulang belakang.
a.    Klasifikasi anak tunadaksa meliputi beberapa golongan antara lain:
1.    Penggolongan cerebral palsy menurut derajat kecacatan.
2.    Golongan cerebral palsy menurut topografi monoplegia, adalah kecacatan satu anggota gerak, kaki kanan.
3.    Golongan menurut fisiologi.
b.    Yang menjadi karakteristik anak tunadaksa adalah: gangguan motorik, gangguan sensorik, gangguan tingkat kecerdasan, kemampuan berbicara, emosi dan penyesuaian sosial.
4.    Tuna wicara
Tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
a.       Faktor penyebab tuna wicara dapat terjadi karena gangguan  ketika: gangguan pre natal, gangguan neo natal, gangguan pos natal.
b.      Tunawicara secara umum diklasifikasikan menjadi 4 bagian,yaitu: keterlambatan bicara (Delayed speech ), gagap (stuttering), kehilangan kemapuan berbahasa(disphasia), kelainan suara(voice disorder).
c.       Yang merupakan karakterisktik anak tunawicara adalah : Karakteristik bahasa, kemampuan intelegensi, Penyesuaian emosi,sosial dan perilaku
Sedangkan anak berkebutuhan khusus berkelainan emosi (Tunalaras)
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan/ hambatan emosi dan tingkah laku sehingga tidak/ kurang menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan, sekolah, maupun masyarakat.
1.    Klasifikasi anak tunalaras
a.    Menurut jenis ganguan atau hambatan yaitu Gangguan emosi, Gangguan sosial.
b.    Klasifikasi berat-ringan nya kenakalan yaitu Besar-kecilnya gangguan emosi, Frekuensi tindakan, Berat-ringan nya pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan.
c.    Yang menjadi karakteristik anak tunalaras antara lain: Anak yang mengalami kekacauan tingkah laku, merasa cemas dan menarik diriAnak yang kurang dewasa, anak yang agresif bersosialisasi.

Daftar Pustaka

Fuziah, fatin. 2012. Makalah Anak Tunawicara.http://fathinfauziah.blogspot.com. Diunduh pada tanggal 25 Januari 2015.
Novikasari, Mely. 2014. ABK Berkelainan Fisik.http://mely novikasari loelhabox.blogspot.com. Diunduh pada tanggal 24 Januari 2015 
Phierda. 2012. Anak Tuna Laras Dan Karakteristiknya .https://phierda.wordpress.com. Diunduh pada tanggal 25 Januari 2015.
Rizki,Nofriyani.2013. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus.http://nofriyanirezki.blogspot.com. Diunduh pada tanggal 24 Januari 2015.
Santoso, Hargio. 2012. Cara Memahami dan Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus.Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Suparno dan Heri Purwanto.Pendidikan Anak Kebutuhan Khusus. file:///C:/Users/PIC/Downloads/Documents/Pendidikan+Anak+Kebutuhan+Khusus+UNIT+4.pdf. Diunduh pada tanggal 24 Januari 2015.






 sebelumnya maaf jika isinya kurang, kami masih sebatas ini mampunya semoga bermanfaat







Tidak ada komentar:

Posting Komentar