Sabtu, 12 September 2015

EVALUASI BIMBINGAN DAN KONSELING : KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING

EVALUASI BIMBINGAN DAN KONSELING
KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING

logounsri14092008_3793.jpg
Disusun oleh: Kelompok 1
                    Candri Herlianti
 06071181320032
                   Julian Sandi
 06071181320026
                   Rofiqotus Sholikah
06071281320023
                   Tiara Wulandari
06071281320020
Dosen Pengampuh:
Drs. Syarifuddin Gani,M.Si Kons.
Fitri Wahyuni. M,Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KONSEP DASAR EVALUASI BIMBINGAN KONSELING”. Makalah ini di susun guna memenuhi tugas “EVALUASI BK”.
Kami juga menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Oleh karena itu, saran dan masukan dari berbagai pihak sangat kami harapkan. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis tetapi juga bermanfaat bagi pembaca.








                                                                                     Indralaya, 02 September 2015


Penyusun











DAFTAR ISI
Cover
i
Kata Pengantar
ii
Daftar Isi
iii
I.PENDAHULUAN
1
1.1  Latar Belakang
1
1.2  Rumusan Masalah
1
1.3 Tujuan masalah
1
II. PEMBAHASAN
3
2.1  Bagaimana pentingnya urgensi evaluasi program dalam    BK
3
2.2 Bagaiman prinsip dasar evaluasi program dalam BK
5
2.3 Apa saja kriteria evaluasi program BK
6
III. PENUTUP
10
3.1 Kesimpulan
10
Daftar Pustaka
17





PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Sebagai suatu sistem, program layanan bimbingan dan konseling tentunya meliputi beberapa hal di antaranya yaitu perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi. Dalam hal ini ketiga hal tersebut senantiasa saling berkaitan dan berkesinambungan.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa suatu hasil senantiasa dipengaruhi oleh perencanaan, begitu pun pelaksanaan juga memiliki peran yang sangat dominan. Selain itu, kedua hal tersebut akan terlihat manakala proses evaluasi berjalan dengan baik. Dengan demikian, evaluasi dari pelaksanaan program layanan bimbingan ini hendaknya dipersiapkan dengan seksama.
Paparan tersebut menunjukkan bahwa begitu pentingnya peranan evaluasi pada pelaksanaan layanan bimbingan. Karena apabila ketadaan evaluasi maka terjadinya pengulanagn berbagai program bimbingan konseling yang kurang menarik, serta tidak dibutuhkan oleh siswa.
Maka hal tersebut pula yang menjadi latar belakang dari makalah ini dengan judul “evaluasi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, Demikian pula hal dalam kegiatan-kegiatan bimbingan di sekolah secara berkala harus dievaluasi. Program bimbingan dan konseling direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan- tujuan tertentu untuk mengetahui samapai seberapa jauh tujuan-tujuan itu tercapai
1.2.   Rumusan Masalah
1.2.1.  Bagaimana pentingnya urgensi evaluasi program dalam Bimbingan dan Konseling?
1.2.2.  Bagaiman prinsip dasar evaluasi program dalam Bimbingan dan Konseling?
1.2.3.  Apa saja kriteria evaluasi program Bimbingan dan Konseling?
1.3.       Tujuan Penulisan
1.3.1. Untuk mengetahui Urgensi evaluasi program Bimbingan dan konseling.
1.3.2. Untuk mengetahui prinsip dasar evaluasi program dalam bmbingan dan konseling.
1.3.3.  Untuk mengetahui kriteria evaluasi program Bimbingan dan Konseling.





















PEMBAHASAN
2.1    Urgensi Evaluasi dalam Bmbingan Konseling
Dalam keseluruhan kegatan layanan bimbingan dan konseling, penilaian diperlukan untuk memeperoleh umpan balik untuk keefektifan layanan yang telah dilaksanakan. Karena untk melihat sampai sejauh mana program terlakasana dan juga ditetapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya.
Secara teoritik siklus terakhir dalam proses pelaksanaan program adalah evaluasi, yang bertujuan memberikan informasi mengenai kinerja program setelah diimplementasikan. Evaluasi sangatlah penting sebagai bentuk akuntabilitas public guru bimbingan dan konseling (konselor) atas kinerjanya. Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling, kegiatan evaluasi (penilaian) diperlukan untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektifan layanan bimbingan yang telah dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat keberhasilan kegiatan layanan bimbingan. Berdasarkan informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya.
Menurut shertzer dan stone 1971:457-458 mengemukakan 5 kategori umum indikator atau kriteria keberhasilan program bimbingan dan konseling disekolah yaitu:
1.      Reducation in scholastic failure yaitu penurunanan kegagalan dan masalah pembelajaran disekolah, baik secara kuantitatif maupun kualitatif
2.      Reducaton in thiscipline problems yaitu penurunan masalah-masalah disiplin, baik secara kuantitatif maupun kualitatif
3.      Greater utilization of the counseling service, yaitu peningkatan pemanfaatan layanan konseling secara sukarela
4.      Reducation in program changes, yaitu penurunan perubahan dalam program bmbingan ditengah jalan
5.      Choice of suitable vocational goals yaitu pilihan siswa tentang tujuan dan pilihan pekerjaan dan kakrir semakin tepat (cocok dengan potensi dan karakteristk pribadinya).
Secara umum penilaian (evaluasi) bermaksud mengetahui apakah sesuatu yang dikerjakan mencapai hasil. Lebih khusus, penilaian bertujuan menentukan apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai dan seberapa jauh tercapai. Pengertian penlaian hendaknya dibedakan dengan penelitian (riset), mengingat keduanya mengandung unsur-unsur persamaan, yaitu prosedur pengumpulan data (objektivitas, standarisasi), persyaratan mengenai data yang dikumpulkan (validitas, reabilitas), dan penerapan rancangan (kuantitatif dan kualitatif). Sedangkan, perbedaan terletak pada penilaian untuk pengambilan keputusan, penelitian tidak harus pedulin akan penggunaan atau kemanfaatan praktis hasilnya, perhatian periset penyusun teori, penguji hipotess, pengembangan ilmu. Namun keduanya bisa digabung apabila orang melakukan penelitian evaluatif.
Konseli dianjurkan agar lebih dilibatakan dan digunakan pendekatan kualitatif penilaian bimbingan perlu dibedakan penlaian pengajaran. Penlaian dalam pengajaran bertujuan melihat perubahan tingkah laku peserta didik sebagai hasil belajar, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan kurikulum yang berlaku. Kecuali dalam konseling rancangan behavioral, tujuan konseling tidak bisa ditetapkan sebelumnya. Demikian juga halyna dalam pengajaran, dalam bimbingan dikenal adanya penilaian hasil (sumatif) dan penilaian proses (formatif).
Secara garis besar, penilaian berlangsung mengikuti tahap-tahap perumusan tujuan, penetapan kriteria, pengumpulan data (bukti efidensi), dan pertimbangan kecocokan efidens itu dengan kriteria. Rumusan tujuan tahap penting dan menetukan, terutama untuk penetapan kriteria. Program bimbingan kuantutatif lebih bersifat mudah menilai, kriteria jelas, dan kuantitatif. (farid mashudi 2013).
Menurut Ming (2005) dalam Farid Mashudi, evaluasi program BK dapat membantu konselor untuk menentukan layanan-layanan mana yang memberi dampak positif kepada para peserta didik dan mengidentifikasi hambtan-hambatan yang mengganggu kesuksesan peserta didik, serta menuntun konselor dalam merancang layanan-layanan yang efektif bagi peserta didik mereka.
Dalam kaitanya dengan upaya perbaikan program, sangat tepat apa ang ditegaskan Sumarno dkk (2002) dalam Farid Mashudi bahwa evaluasi merupakan langkah awal perencanaan. Artinya perencanaan untuk perbaikan program harus dimulai dari kegiatan evaluasi. Atas dasar itulah, maka model evaluasi ini diawali dengan need assesment, sebagai komponen pertama. Fakta empris yang diperoleh dari hasil analisis need assesment dapat menjadi masukan subtantif berharga untuk mendasari penususnan program bmbingan dan konseling pada tahun berikutnya.

2.2    Prinsp Dasar Evaluasi Bimbingan dan Konseling
Evaluasi program bimbngan dan konseling merupakan proses pemberian nilai kepada seluruh program dalam rangka mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertujuan agar adanya perbaikan pada program. Dalam menjaga tujuanya untuk melakukan perbaikan, maka kertika evaluasi dilakukan, evaluator (orang melakukan evaluasi) harus memegang erat 7 prinsip dasar dalam evaluasi program bimbingan dan konseling. Ketujuh prinsip dasar ini harus menjadi pedoman bagi evaluator dalam melaksanakan evaluasi program bimbingan dan konseling.
Untuk mencapai tujuan dan terlaksananya fungsi program bimbngan dan konseling, maka pelaksanaannya harus dikelola seefisien serta seefektif mungkin selaras dengan prinsip-prinsip suatu program. Beberapa prinsip yang harus diperankan dalam penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling diantaranya:
a.       Evaluasi yang efektif menuntut pengenalan terhadap tujuan-tujuan program. Ini berarti perlu adanya kejelasan mengenai tujuan yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan evaluasi.
b.      Evaluasi yang efektif tergantung pada pelaksanaan pengukuran yang valid terhadap kriteria.
c.       Evaluasi melibatkan berbagai unsur yang profesional. Dalam program bimbingan dan konseling dituntut keterlibatan pihak-pihak yang benar-benar profesional dalam bidang bimbingan dan konseling secara keseluruhan.
d.      Menuntut umpan balik (feed back) dan tindak lanjut  (follow up) sehingga hasilnya dapat digunakan untuk membuat kebijakan atau keputusan. Adapun keputusan dapat menyangkut:
1.      Personalia yang terlibat dan kemampuannya menggantikan atau penambahan tenaga.
2.      Jenis kegiatan dan pelaksanaannya disusun berdasarkan prioritas kegiatan dan subjek yang ditangani.
3.      Pembiayaan, waktu dan fasilitas lainnya harus dipertimbangkan.
e.       Evaluasi yang efektif hendaknya terencana dan berkesinambungan.  Hal ini berarti bahwa evalusi program bimbingan dan konseling bukan merupakan kegiatan yang bersifat incidental, melainkan proses kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan. (Sukardi Dewa ketut 2002).
f.       Evaluasi yang efektif membutuhkan kriteria pengukuran yang valid.
g.      Evaluas menekankan pada kepositifan. (Aip badjrujaman 2011).

2.3    Kriteria Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
Sebuah program akan dikatan berhasil dan sukses apabila memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Menurut mutrofin&hadi (2006:77) dalam Aip badjrujaman 2011, menjelaskan kriteria merupakan karakteristik program yang dianggap sebagai basis penting untuk melakuakn riset evaluasi pada program tersebut. Pendapat ini senada dengan apa yang disampaikan oleh winlke & hatuti (2006:825) bahwa kriteria adalah patokan dalam evaluasi program.
Kriteria merupakan karakteristik program yang dianggap sebagai basis relevan dan penting untuk melakukan evaluasi. Pemberian nilai pada kriteria didasarkan pada keyakianan, pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, dan hasil kajian teortis.
Menurut Schmidt (1999:64) menjelaskan empat cara untuk melakukan kritera dalam evaluasi outome yaitu menggunakan pencapaian melalui presentase mebandingkan pencapaian siswa ang mengikuti program dan yang tidak mengikuti program, menanyakan pada siswa orang tua, atau guru serta dengan membandingkan skor pretest dan postes. Meskipun tdak ada aturan keras akan tetapi biasanya standar tersebut dihasilkan melalui penilaian ahli berdasarkan pengalaman anggota staf. Winkel dan Hastuti (2006) menjelaskan bahwa kriteria dapat ditentukan berdasarkan ciri yang melekat dalam program bmbingan tersebut, baik eksternal maupun internal.
Ciri-ciri eksternal dalam Dewa ketut Sukardi (2008) yaitu:
1.      Terdapat seorang tenaga ahli bimbingan untuk setiap orang siswa, dengan alasan bahwa rasio ini pada umumnya memungknkan konselor untuk melayani populasi siswa secara madai.
2.      Tenaga-tenaga bimbingan mempunyai kualifkasi yang memadai dalam hal penddikan prajabatan, bidang bimbingan dan konseling.
3.      Terdapat sstem kartu pribadi yang memuat data yang relevan tentang setiap siswa, yang dkelola dengan baik dan digunakan secara aktual dalam memberikan bimbingan kepada siswa.
4.      Terdapat sumber-sumber informasi pendidikan dan jabatan ang lengkap, mudah untuk dimanfaatkan dan secara berkala diperbarui.
5.      Tersedi sarana-sarana material dan teknis ang memadai.
6.      Tersedia dana finansial yang cukup, sehingga kegiatan-kegiatan dapat berjalan dan tidak sering mengalami kemacetan karena tidak tersedia dana.
7.      Pelayanan bimbingan menjangkau seluruh populasi siswa dan tidak terbatas pada kelompok siswa tertentu atau tngkatan kelas tertentu.
8.      Tersedia suatu rencana program ang jelas dan tertuang dalam suatu dokumen tertulis sebagai pegangan.
Ciri-ciri internal dalam Dewa ketut sukardi 2008 yaitu:
1.      Program bimbingan bersumber pada kebutuhan-kebutuhan siswa yang nyata dan realistikdengan mengingat tugas-tugas perkembangan pada rentangan umur tertentu dan keadaan sosial, budaya dan ekonom masyarakat pada saat sekarang.
2.      Sifat-sfat bimbingan yang menonjol ialah sifat prefentif dan developmental, sehingga lebih banyak perhatian pada usaha bimbingan pencegahan dan pengembangan ketimbang usaha korektif.
3.      Kegiatan-kegiatan bimbingan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti kegiatan pengajaran juga diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan.
4.      Terdapat kesembangan ang wajar antara layanan-layanan bimbingan dengan mengingat kebutuhan-kebutuhan siswa, manakah yang sebaiknya dlayan melalui layanan bimbingan tertentu.
5.      Stabilitas layanan bimbingan kepada siswa tewrjamin sehingga mundurnya salah seorang tenaga bimbingan tidak mengakibatkan kegoncangan dan posisi yang kosong dapat segera diisi.
6.      Fleksibelitas dalam pengelolaan program, sehingga perubahan-perubahan yang ternyata diperlukan dapat direalisaskan tanpa menggoncangkan tenaga bmbingan atau membngungkan para siswa.
7.      Staf bimbingan mempunyai semangat kerja yang tinggi, membuktikan kemampuannya untuk bekerja sama dan berhasil dalam mengatasi perbedaan pandangan yang mungkin tmbul di antara mereka.
8.      Staf pembimbing menghindari pengamblan skap “ sudah tau segala-galanya, mampu memecahkan segala persoalan sendri, dan tidak membutuhkan bantuan dari ahli lain”.
9.      Staf bmbingan mampu menjelaskan secara memuaskan sifat dan cirikhas dari layaanan yang mereka berikan, misalnya menjelaskan kepada staf guru apa yang dikerjakan, dengan tujuan apa, dengan cara bagaimana.
10.  Para konselor sekolah dan para siswa saling mengenal, dalam arti konselor mengetahui nama dari sswa-siswa yang dilayani dan para siswa mengenal konselor mereka, mengetahui apa peranan nya serta tugasna disekolah, menyadari tanggung jawabnya sendri untuk bekerja sama dengan konselor demi perkembangan sendiri yang lebih baik, dan menggunakan layanan-layyanan bimbingan ang ditawarkan kepada mereka.
11.  Koordinator bmbingan membuktikan dirinya sebagi orang ang berkualifikasi secara akademik dan mampu mengkoordinasi kegiatan-kegiatan bimbingan sambil membina hubungan antarpribadi dan rekan-rekan seprofesi.
Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan siswa dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu siswa memperoleh perubahan perilaku dan pribadi ke arah yang lebih baik. (dari Bahan Belajar Mandiri Kegiatan Pelatihan Pengawas Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik  dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Dalam www.akhmadsudrajat.wordpress.com)
Selain itu, krteria keberhasilan program pelayanana bimbingan dan konselng disekolah dan madrasah juga bisa ditentukan dengan hal-hal berkut:
1.      Taraf keberhasilan konseli dalam belajar dalam tingkat satuan pendidkan yang lebih tinggi
2.      Perasaan puas dalam memangku jabatan dimasyrakat
3.      Aspirasi yang realistis dalam menyusun rencana masadepan
4.      Frekuensi pengungkapan masalah yang mengganggu ketenanagan hidup konseli berkurang
5.      Hasl belajar disekolah atau madrasah lebih bak (meningkat)
6.      Keterlibatan konseli dalam akademik meningkat
7.      Jumlah konseli yang menimbulkan kasus berkurang
8.      Lebih banayak konseli yang memanfaatkan layanan-layanan bmbingan yang disediakan madrasah dan sekolah, misalnya layanan konseli. (farid mashudi:2013)

PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Pentingnya evaluasi program bimbingan konseling adalah untuk meninjau seberapa jauh program terlaksana sehingga mengetahui apa-apa ang perlu diperbaharui dan dperbaiki untuk kedepannya.
Prinsip dasar evaluasi program bimbingan dan konseling meliputi pengenalan awal atas tujuan-tujuan program, membutuhkan kriteria pengukuran yang valid, pelaksanaan pengukuran yang vald, melibatkan seluruh aspek yang berpengaruh, adanya feed back, harus direncanakan, dan menekan kepada kepositifan.
Kriteria merupakan karakteristik program yang dianggap sebagai basis relevan dan penting untuk melakukan evaluasi. Pemberian nilai pada kriteria didasarkan pada keyakianan, pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, dan hasil kajian teortis.










DAFTAR PUSTAKA

Badrujaman, Aip. 2011. Teori dan Aplikasi Bimbingan Konseling. PT Indeks. Jakarta.
Dewa Ketut, Sukardi. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Mashudi, Farid. 2013. Panduan Evaluasi Dan Supervisi Bimbingan dan Konseling. Diva press. Yogyakarta.
Sudrajat, Akhmad. 2010. Evaluasi Program Bimbingan di Sekolah. Dalam  https://akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses pada agustus 2015.


Selasa, 07 April 2015

BK KARIR: Social Learning theory

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Tingkah laku manusia merupakan interaksi diantara 3 variabel yang juga mempunyai peranan penting dalamm proses pembelajaran social, yaitu lingkungan, individu, dan perilaku. Antara individu, lingkungan serta perilaku saling berhubungan dan mempengaruhi proses pembelajaran social. Dimana perilaku seseorang tercipta dari hasil interaksi antara factor yang ada dalam diri individu tersebut dengan kondisi lingkungan tempat individu tinggal.
            Proses pembelajaran social ini menekankan pada komponen kognitif dari individu terhadap suatu hal yang akhirnya menghasilkan sebuah pemahaman dan evaluasi mengenai hal tersebut. Ketika suatu individu berinteraksi dengan lingkungannya terjadi interaksi pula terhadap factor-faktor yang terdapat dalam diri individu dengan factor-faktor dalam lingkungan tersebut.
            Albert Bandura menyatakan bahwa Social Learning Theory menganggap media massa sebagai agen sosialisasi yang utama disamping keluarga, guru dann sahabat.

1.2 Rumusan Masalah
            Rumusan dari latar belakang diatas adalah:
            1. Apa itu Social Learning theory?
            2. Apa itu Teori Peniruan?
            3. Bagaimana konsep pokok Social Learning Theory?
            4. Apa saja Faktor-faktor dari teori tersebut?
            5. Bagaimana Ciri-ciri Social Learning Theory tersebut?
            6. Apakah Kelemahan dan Kelebihan dari Teori Albert Bandura?

1.3 Tujuan
            Tujuan dari rumusan masalah diatas adalah:
            1. Agar para pembaca mengenal dan mengetahui apa itu Social Learning
                theory.
            2. Agar para pembaca mengetahui konsep, factor-faktor, dan cirri-ciri dari
                Social Learning Theory.
            3. Agar para pembaca mengetahui kelemahan dan kelebihan dari Social
                Learning Theory.



























II. PEMBAHASAN

2.1 Social Learning Theory
            Teori pembelajaran social ini dikembangkan oleh Albert Bandur (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada kesan dan isyarat perubahan perilaku, dan proses mental internal.
            Menurut bandura bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Inti dari pembelajaran social adalah pemodelan (modeling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
            Ada 2 jenis pembelajaran melalui pengamatan:
·         Pertama, pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami oleh orang lain. Contohnya: seorang pelajar melihat temannya dipuji dan ditegur oleh gurunya karena perbuatannya, maka ia kemudian akan meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya.
·         Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan positif atau penguatan negative saat mengamati itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamatan tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu.

2.2 Teori Peniruan (Modeling)
a)      Konsep Teori Peniruan (Modeling)
Perilaku peniruan manusia terjadi karena manusia merasa telah memperoleh tambahan ketika kita meniru orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian.
Contoh: dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak-anak untuk menirukan tingkah laku membaca.
b)      Unsure Utama dalam Peniruan (Proses Modeling)
Menurut teori belajar social, perbuatan melihat saja menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara rinci dasar kognitif dalam proses belajarr dapat dilihat dalam 4 tahap:
·         Perhatian
Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek member perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap dan lain-lain yang dimiliki.
Contoh: seorang pemain music yang tidak percaya diri mungkin meniru tingkah tingkah laku pemain music terkenal sehingga tidak menunjukkan gayanya sendiri.
·         Mengingat
Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diingini. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar.
·         Reproduksi Gerak
Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkah laku. Subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.
Contoh: mengendarai mobil, bermain tenis.
·         Motivasi
Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk melakukan sesuatu. Jadi subjek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan.


c)      Jenis-jenis Peniruan
·         Peniruan langsung
Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modeling, yaitu suatu fase dimana sseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu keterampilan itu dilakukan.
Contoh: meniru gaya penyanyi yang disukai.
·         Peniruan tak langsung
Peniruan tak langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak langsung.
Contoh: memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya.
·         Peniruan gabungan
Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tak langsung.
Contoh: pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai daripada buku yang dibacanya.
·         Peniruan sesaat
Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja
Contoh: meniru gaya pakaian ditv, tetapi tidak boleh dipakai disekolah.
·         Peniruan berkelanjutan
Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun
Contoh: pelajar meniru gaya bahasa gurunya.

2.3 Konsep Pokok
Social learning theory dari Bandura didasarkan pada 3 konsep pokok, yaitu:
1.      Determenisme resipokal: pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk hubungan interaksi timbal balik yan terus menerus. Orang menentukan/mempengaruhi tingkah lakunya dengan mengkontrol lingkungan. Determenisme resipokal itu sendiri merupakan konsep penting dalam teori belajar social karena menjadi pijakan untuk lebih memahami tingkah laku seseorang.
2.      Tanpa reinforcement: menurut Bandura reinforcement penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tapi itu bukan merupakan satu-satunya pembentuk tingkah laku seseorang individu. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang sesuatu yang diamati tadi.
3.      Kognisi dan Regulasi dir: konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang mengatur diri sendiri, memepengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya sendiri.

2.4 Faktor-faktor
Pengalaman belajar yang terdiri dari pengaruh kognitif yang positif dimaksudkan adalah factor-faktor berikut:
a.       Atribut pembawaan, seperti ras, gender hal lainnya serta kemampuan bawaan seperti keterampilan, intelektual, serta perilaku.
b.      Kondisi lingkungan social, seperti kehidupan social, pengalaman individu dalam kerja, pelatihan, kebijakan social serta pengalaman kerja dari orang lain, yang mempengaruhi pemilihan kerja.
c.       Pengalaman belajar dimasa lalu, dibagi menjadi 2 tipe yaitu pengalaman belajar asosasi yang mana individu mengamati keterkaitan antara kejadian dan mampu untuk memprediksi segala kemungkinan. Pengalaman belajar secara aplikasi, individu mampu mengaplikasikan dilingkungan secara langsung dengan hasil yang dapat diobservasi.
d.      Skill dalam pendekatan tugas, berkaitan skill individu dalam melaksanakan tugas baru, melalui pengalaman bahwasanya seperti pemecahan masalah, skill, kebiasaan kerja, mental set, respon emosional serta proses kognitif.
Dari 4 faktor-faktor diatas menyebakan pengaruh primer yang sangat penting dalam penentuan karir individu tersebut:
1.      Self Observation Generalizations. Hal ini merupakan penggambaran bahwa belajar uindividu berdasarkan pada pengalaman hidupnya yang diperoleh lewat pengalaman pribadi.
2.      Worldview Generalizations. Melihat gambaran lingkungan secara umum dan percaya bagaimana dunia berfungsi, meniru lingkungan dan menginterpretasikan.
3.      Task Approach Skill, kemampuan kognitif dan performa serta kemampuan untuk menyatu dengan lingkungan serta menginterpretasikan hal tersebut kepada pengamatan diri sendiri, kaitannya dengan pemilihan karir adalah adanya skill akan perencanaan, pencarian informasi, estimasi serta mempertimbangkan nilai kerja.
4.      Tindakan yang ditampakkan hal yang ditampakan itu sangat spesifik, yang berhubungan dengan perilaku dalam pemilihan kerja yang sebabkan pengamatan diri sendiri, penggeneralisasian serta pendekatan skill dalam tugas diatas tadi, seperti nantinya individu akan mengetahui kerja yang spesifik dengan skillnya. Atau bisa disebut, kemajuan dalam karir seperti menerima kerja yang specific.

2.5 Ciri-ciri
ü  Unsur pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan
ü  Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain-lain
ü  Pelajar meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang didemonstrasikan guru sebagai model
ü  Pelajar memperoleh kemampuan jika memperoleh kepuasan dan penguatan yang positif
ü  Proses pembelajaran meliputi perhatian, mengingat, peniruan, dengan tingkah laku atau timbal balik yang sesuai, diakhiri dengan penguatan yang positif.

2.6 Kelemahan dan Kelebihan Teori Albert Bandura
ü  Kelemahan Teori Albert Bandura
Teori pembelajaran Social Bandura sangat sesuai jika diklasifikasikan dalam teori behaviroristik. Ini karena, teknik pemodelan Albert Bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru. Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya melalui peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sebagian individu yang menggunakan teknik peniruan ini jga akan meniru tingkah laku yang negative, termasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.
ü  Kelebihan Teori Albert Bandura
Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya, karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui system kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex atas stimulus, melainkan juga akibat interaksi antara lingkungan dengan kognitif manusia itu sendiri.














III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan diatas adalah bahwa social learning theory menekankan tingkah laku seseorang melalui peniruan yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Dengan melakukan peniruan seseorang dapat menambah interaksinya lebih dari yang ia miliki. Dari factor-faktor peniruan tersebut dapat mempengaruhi dalam menentukan karir orang tersebut.























DAFTAR PUSTAKA

Gemily, Syilga Cahya. 2012. Social Learning Theory.
http:// syilgagemily.blogspot.com
            Diakses Tanggal 25 Januari 2015 Pukul 13.00