Selasa, 31 Maret 2015

BK KELUARGA DAN MASYARAKAT- ketahanan keluarga

1.      PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Dalam menjalai kehidupan individu pasti akan selalu dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan. Begitu juga saat dalam membina rumah tangga (Keluarga), tidak akan terlepas dari masalah, bahkan masalah yang dihadapi akan semakin kompleks. Namun  berbagai macam permasalahan itu akan dapat diminimalisisir dengan upaya-upaya preventif dari seluruh anggota keluarga terutama orang tua agar masalah tersebut tidak mengakibatkan konsekuensi yang berarti.
Orang tua merupakan model utama bagi seorang anak, anak akan cenderung meniru segala hal yang berada disekitarnya termasuk apa  yang orang tua contohkan kepada anak, karena itu orang tua harus memberikan pendidikan dan pola asuh yang benar terhadap anak. Memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan nya dan berupaya memfasilitasi kebutuhan anak demi tumbuh kembang anak secara optimal. Jika perlakuan/pola asuh orang tua tepat kepada seorang anak, memberikan kasih sayang dan perhatian secara adil dan seimbang maka tumbuh kembang anak akan bekembang secara baik tanpa ada masalah-masalah yang mengancam kehidupannya. Namun jika pendidikan dan pola asuh orang tua salah terhadap anak, maka hal itu akan berakibat buruk terhadap perkembngan anak.
Perlakuan orang tua yang sesuai akan menghindarkan anak pengaruh negatif yang berasal dari luar, anak akan merasa nyaman berada dirumah daripada berada diluar jauh dari keluarga. Karena itu peluang anak terpengaruh oleh faktor negatif lingkungan akan sedikit.
Keluarga yang mampu mengembangkan kehidupannya dengan selalu memegang prinsip-prinsip nilai yang kuat, dan senantiasa menjaga komunikasi antar anggota keluarga dan sabar dalam menghadapi setiap masalah serta mampu meminimalisisr pengaruh negatif yang  dapat menyebabkan kekacauan dalam keluarga maka keluarga tersebut mempunyai ketahanan keluarga yang kuat.
Dalam hal membantu individu-individu untuk membentuk keluarga yang sakinah, sejahtera dan mempunyai ketahanan keluarga yang kuat Layanan Bimbingan konseling mampu memberikan pelayanan melalui layanan Konseling Keluarga (Family Counseling), yang bertujuna untuk membntu keluarga melakukan usaha-usaha preventif agar terhindar dari masalah penyebab kekacauan rumah tangga, ataupun membantu menyelesaikan/ memperbaikai komunikasi dalam sistem keluarga yang terganggu.
Oleh karena itu didalam makah ini kami memaparkan tentang Ketahanan Keluarga serta  bagaimana Layanan Konseling Keluarga berperan dalam membantu menciptakan ketahana keluarga.

1.2.  Rumusan Masalah
1.2.1.      Apa yang dimaksud dengan ketahanan keluarga?
1.2.2.      Apa penyebab kekacauan keluarga?
1.2.3.      Bagiaman kasus kawin cerai dikalangan selebritis?
1.2.4.      Apa yang dimaksud dengan konseling pernikahan?
1.2.5.      Bagaimana proses dan teknik  konseling pernikahan?
1.2.6.      Bagaimana Bimbingan keluarga sakinah?
1.2.7.      Bagaiman peran keluarga dalam pendidikan?

1.3.   Tujuan Penulisan
1.3.1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan ketahanan keluarga.
1.3.2.      Mengetahui penyebab kekacauan keluarga.
1.3.3.      Memahami kasus kawin cerai yang ada dikalangan.
1.3.4.      Memahami konseling pernikahan.
1.3.5.      Mengetahui dan memahami proses serta teknik konseling pernikahan.
1.3.6.      Mengetahui bagaimana bimbingan keluarga sakinah.
1.3.7.      Memahami peran keluarga dalam pendidika.


11.  PEMBAHASAN

2.1.Ketahanan Keluarga
Dalam http://penelitihukum.org/tag/pengertian ketahanan keluarga/ dinyatakan bahwa  Ketahanan Keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. (Pasal 1 Angka 15 UU Nomor 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera).
Dalam   http://repository.ipb.ac.id     ketahanan keluarga yaitu kemampuankeluarga dalam  mengelola sumberdaya yang dimiliki dan  menanggulangi masalah yang dihadapi, untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikososial keluarga (Sunarti, 2001).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Ketahanan Keluarga adalah:  kondisi kelurga yang memiliki keuletan, ketangguhan serta kemampuan untuk mengelola sumberdaya keluarga, sehingga mampu untuk hidup mandiri, menangulangi masalah yang dihadapi serta  harmonis dalam  mencapai kesejahteraan keluarga.
Di era globalisasi ini ketahanan keluarga sulit untuk dipertahankan, begitu banyak terlihat Gejala perpecahan dan gejolak keluarga seperti perceraian, pertengkaran suami istri, kenakalan anak seperti mencuri, berjudi, melanggar aturan sekolah dan masyarakat, meminum minuman keras dan penggunaan obat-obat terlarang hingga yang paling arak dikalangan remaja putri yaitu hamil dirumah nikah. Gejala-gejala tersebut diakibatkan beberapa faktor diantaranya:
2.1.1.      Ketidakberfungsian Sistem Keluarga.
Sisitem keluarga adalah terjadinya komunikasi dua arah (suami-istri) dan komunikasi dua arah bagi semua anggota keluarga (ayah-ibu-anak). Setiap komponen keluarga berfungsi dengan mengarahkan, membina, dan memberikan perhatian, dan kasih sayang kepada anggota keluarga.
Sistem keluarga berfungsi untuk saling membantu dan memungkinkan kemandirian setiap anggota keluarga , apabila ada satu komponen keluarga yang terganggu atau tak berfungsi maka sistem keluarga akan terganggu pula. Sebabnya karena keluarga diwarnai oleh kehidupan emosional dan informal.
Ada beberapa hal ketidak berfungsian keluarga menurut  Aponte dan Ban Deusen dalam Sofyan S. Willis:149) yaitu:
a.    Tembusnya batas-batas dan aturan dalam keluarga
Pada keluarga yang fungsional batas atau aturan keluarga dimengerti dan bersifat fleksibel, akan tetapi pada keluarga yang takfungsional terjadi sebaliknya.  Akibat terjadi campur aduk perilaku, hal ini menyebabkan rendahnya toleransi untuk menjunjung kreativitas, kemandirian, dan terhambatnya perkembangan-perkembangan anggota keluarga.
b.    Terjadi blok-blok dalam keluarga
Dalam keluarga yang tak fungsional sering terjadi blok-blok. Contoh seorang istri membentuk blok dengan ibunya untuk menyerang suaminya. Begitu juga seorang anak laki-laki yang memihak kepada ibunya kala ibunya sedang bertengkar dengan suaminya.
c.    Menurunnya kewibawaan
Jika kewibawaan orang tua/suaminya sudah hilang, atau orang tua/suami yang terlalu otoriter, maka keluarga itu tak akan berfungsi lagi. Masalah kewibawaan berasal sejak dini, sejak rumah tangga mulai dibangun, atau sejak anak-anak masih  kecil. Kasih sayang yang tidak pada tempatnya adalah sumber utama merosotnya kewibawaan suami atau orang tua.  Orang tua atau suami otoriter merupakan sumber ketakberfungsian keluarga, karena pada situasi otoriter, biasanya kreativitas akan mati, dan timbul pasif pada anggota keluarga.
2.1.2.      Keluarga Materialistik
Keluarga materialistik merupakan salah satu penyebab kekacauan keluarga yang lebih menyeramkan daripada ketidakberfungsian sistem keluarga. Pada keluarga ini menetapkan tujuan utama dalam mengumpulkan harta benda dengan asumsi bahwa hal demikian mampu memberikan kebahagiaan tujuh turunan. Hingga akhirnya suami yang penghasilannya kurang membuat istri ikut bekerja keluar rumah mencari nafkah, tanpa memperhatikan kebutuhan anak, akibatnya anak dikesampingkan dan membiarkan anak hanya mendapatkan pemdidikan dari pembantu yang kurang berpendidikan.
Saat menginjak usia remaja, remaja yang dibesarkan dengan kurangnya perhatian dan kasih sayang, mereka akan mencari perhatian dan kasih sayang diluar seperti ikut bergabung dengan geng-geng jalanan yang berperilaku negatif.
Hasil pengamatan dari lembaga penitipan anak dan remaja, pondok inabah Tasikmalaya menunjukkan sebagian besar anak-anak yang menghuni tempat tersebut adalah anak dari keluarga yang orang tua mereka sangat sibuk.
2.1.3.      Istri Berkuasa
Dalam islam diajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin terhadap perempuan atau suami atas isteri dan anak-anaknya (Arrijaalu qawwamuuna ‘alanisaa). Namun dalam perjalanan hidup keluarga yang materialistis, terkddang suami yang rendah pendidikan, derajat dan penghasilan daripada istri akan menjadi bulan-bulanan seorang istri.  Karena istri memiliki kualitas yang serba tinngi, ia merasa bahwa ia adalah yang berkuasa atas suami dan rumah tangga.
2.1.4.      Ketidakharmonisan Hubungan Individual
Rata-rata keluarga stress menyebabkan hubungan seksual tidak harmonis dan tidak memuaskan. Mereka jarang membicarakannya karena malu, atau menganggap tidak perlu, akibatnya jarak antara mereka makin membesar.
Faktor stress bersumber dari konflik kejiwaan antara suami-istri. Penyebab utamanya adalah kurangnya toleransi dan penghargaan pada masing-masing, Sehingga sering melakukan penilaian yang subjektif. Ada juga faktor impotensi klinis yang disebabkan gangguan faal tubuh dan sering melakukan onani diwaktu masih muda. Serta disamping itu sehubungan perkembangan zaman, sering masalah kesucian laki-laki dan wanita menjadi pertanyaan. Jika konflik tidak terpecahkan, maka suami-istri itu akan terus-terusan stress.
2.2.Situasi Global
Masyarakat islam sangat terkejut ketika muncul usul dari negara-negara barat melalui PBB dalam sidang ICPD (International Conference on Population and Development) bulan September tahun 2000 yang lalu di Kairo. Usulnya adalah agar PBB mengakui hal-hal berikut ini:
1.      Pengakuan terhadap kelurga homo dan lesbi.
2.      Mengesahkan pergaulan free-sex.
3.      Mengakui keluarga singgle-parent, yaitu seorang ibu yang memelihara anak jadah (zinah) disahkan sebagai keluarga.
4.      Dituntut pengakuan masyarakat dunia terhadap aborsi (pengguguran kandungan).
Jelas sekali apabila usul-usul tadi diterima masyarakat dunia termasuk islam, maka berarti keluarga sudah hancur. Namun kejadian itu akan berlangsung terus. Sebagai contoh, kehamilan wanita diluar nikah amat sering terjadi di masyarakat kita. Bahkan karena pengaruh film-film barat, prilaku tersebut hampir dianggap biasa oleh pasangan-pasangan yang berpacaran, dan mereka merasa bebas melakukan hubungan seks tanpa nikah.
Kunci sukses antisipasi terletak pada 1). Kekuatan keluarga, dimana anak dan remaja merasa betah dirumah, sayang pada orang tuanya, taat beribadah, dan selalu berkomunikasi dengan keluarganya mengenai persoalan pribadi dan seks; 2). Membatasi film-film barat yang tidak mendidik dan merugikan islam, misalnya dengan memperluas informasi tentang seks dan pernikahan terhadap remaja melalui diskusi, seminar dan penyuluhan di sekolah-sekolah dan masyarakat umum.


2.3.Kekacauan Keluarga
Kehidupan keluarga dizaman kemajuan industri dan teknologi mengalami berbagai macam cobaan. Cobaan bukan hanya karna faktor ekonomi tetapi lebih banyak pada faktor sosial psikologis. Pada keluarga yang berorientasi ekonomi sering urusan anak diabaikan atau diserahkan kepada pembantu hal inin akan berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan psikologis anak.
Kehidupan keluarga dengan beberapa ahnak dan remaja sering mengalami masalah hal ini berawal dari ketidak pahaman orang tua tentang perilaku para remaja keebiasaan orang tua memaksakan prinsipnya terhadap anak, kemungkinan akan mengalami kekecewaan karena konsep orang tua tentang sesuatu yang diduganya benar belum tentu dapat dipahami oleh anak bahkan bereaksi melawan arus. Sikap otoriter tidak dapat mendukung perkembangan anak dan remaja, sikap tersebut terlihat pada komunikasi yang tidak menghargai tidak ramah dan tidak empati.
Pemaksaan kehendak secara sepihak dari orang tua membuat susana menjadi tegang, konflik, dan stress. Remaja merasa kehilangan kasih sayang dan perhatian serta keteladanan orang tua. Situasi keluarga yang sering kali bertengkar dan menjadikan anak sebagai objek kemarahan mereka membuat anak tidak betah dirumah yang pada akhirnya remaja memilih untuk meninggalkan rumah dan mencari kesenangan bersama teman-teman sebaya yang senasib, hal ini bsa menyeret para remaja kepada narkoba dan kenakalan lainnya.
Tekanan terhadap remaja yang bersumber dari keluarga dapat berupa tuntutan orang tua agar mereka dapat memenuhi cita-cita yang diharapkan oleh orang tuanya yang tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini akan menimbulkan kekecewaan pada diri remaja.
2.3.1.      Sebab-Sebab Keretakan Keluarga
Dewasa ini banyak sekali penyebab potensial untuk dapat menimbulkan keretakan keluarga (broken home) yang dapat berakibat patal bagi terjadinya pertengkaran suami istri. Faktor yang menimbulkan ketegangan dan kekacauan dalam keluarga dapat berasal dari ayah atau ibu, dan anak-anak menjadi pelampiasan amarah dari suami istri tersebut
Adapun sumber-sumber konflik keluaraga dapat dari faktor ekonomi, kecurigaan mengenai perselingkuhan, soal anak, soal mertua, dan anggota keluarga pihak suami atau istri. Faktor kegagalan suami atau istri dalam pekerjan bisa dilampiaskan kedalam kehidupan keluarga demikian pula prilaku negatif anak yang diperoleh dari pergaulan diseklah dan masyarakat akan menimbulkan ketegangan keluarga.
Menurut sofian willis (2011: 155) Sebab-sebab keretakan keluarga yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Fakttor internal diantaranya:
a.       Beban psikologi ayah atau ibu yang berat (psychological overload) seperti tekanan (sterss) ditempat kerja, kesulitan keuangan keluarga.
b.       Tafsiran dan perlakuan terhadap perilaku marah-marah dan sebagainya.
c.        Kecurigaan suami/istri bhwa salah satu di antara mereka diduga berselingkuh.
d.      Sikap egoistis dan kurang demokratis.
Faktor eksternal keretakan keluarga yaitu:
a.         Campur tangan pihak ketiga dalam masalah keluarga.
b.         Pergaulan yang negatif anggota keluarga.
c.         Kebiasaan negatif istri bergunjing di rumah orang lain.
d.        Kebiasaan berjudi.

2.3.2.      Upaya Preventif
Setiap orang menginginkan keluarga yang bahagia, di penuhi dengan rasa kasiih sayang, perhatian, dorongan, kegembiraan, dan mampu menciptakan ketengan batin. Orang tua sebagai pembimbing anak-anak sudah seharusnya lebih bijak dalam menciptakan keluarga yang bahagia. Berikut ini beberapa syarat untuk menjadi orang tua yang bijak yaitu:
1.      Orang tua mampu berkomunikasi secara empati, menghargai anak (menjauhakan dari sikap merendahkan, melecehkan dan menekan) dan mendorong anak agar maju sesuai bakat, kemampuannya..
2.      Orang tua harus teladan, yaitu sesuai antara kata dan perbuatan (konsisten), menguasai nilai agama dan melaksanakan nya, serta berjiwa sosial.
3.      Membentuk dialog dalam anggota keluarga agar setiap anggota kelompok terbuka, mencurahkan perasaan dan kesempatan anak untuk sharing.
4.      Menciptakan humor, untuk menghindari keadaan yang menekan, membosankan dan menimbulkan stress.
5.      Orang tua harus adil, adil dalam hal kasih sayang, perhatian dan perlakuan.

2.4.Kasus Kawin Cerai Selebritis
2.4.1.      Dasar Perkawinan Selebritis
Rata-rata perkawinan selebritis dilandasi oleh beberapa hal yakni: daya tarik fisik, daya tarik materi, dan pengembangan karier. Daya tarik fisik yang sering dibumbui dengan jargon Cinta, dan memperlihatkan kemesraan dihadapan publik. Dalam hal materi, bagi mereka perkawinan haruslah menguntungkan, jika seorang selebritis sudah kaya ia akan sulit mendapatkan pasangan kecuali seorang yang sama kaya atau lebih kaya dari nya.  gejala emosional yang dirasakan oleh para artis sering di sebabkan oleh Faktor kesibukan, mengejar jadwal acara yang sangat padat , mempertahankan kondisi fisik dan penampilan agar tetap prima, hal ini  membuat atris merasa tertekan, cemas, dan bahkan bisa sterss. Terlebih apabila ia mempunyai suami yang tidak seprofesi dan anak-anak yang masih butuh perawatan, akan menambah beban emosionalnya, karen ia tidak mampu untuk memberikan pelayanan secara penuh terhadap keluarganya, akibatnya sering terjadi percekcokan/ pertengkaran diantara susmi istri yang bisa berujung perceraian.
Dalam kondisi seperti ini sangat diperlukan untuk dapat menyalurkan emosi secar tepat. Namun biasanya ang terjadi pada kalangan selebritis ia menyalurkan tekanan emosinya kepada para wartawan yang nota bene nya senang dengan isu-isu artis seperti itu.
2.4.2.      Pendekatan Konseling Perkawinan (Marriange Counseling)
Marriage Counseling/ Konseling perkawinan adalah cabang dari Family Counseling  dengan tujuan agar komunikasi suami-istri menjadi harmonis. Dengan kata lain marriage Counseling adalah upaya seorang konselor untuk membantu pasangan suami istri yang mengalami kesulitan dalam komunikasi karena adanya problem diantara mereka.
Melalui pendekatan konseling perkawinan beberapa langkah harus dilalui oleh pasangan suami istri yaitu:
Pertama, Konselor memberi kemudahan bagi masing-masing pasangan untuk mengungkapkan uneg-uneg emosionalnya. Dalam hal ini masing-masing harus memberi kesempatan kepada pasangan nya untuk berbicara secara leluasa tanpa diinteripsi Mengutarakan berbagai perasaan yang dirasakan baik mengenai tugas yang padat, kecurugaan kecemburuan dll.
Kedua, setelah pasangan puas mengungkapkan perasaan emosionalnya, suami istri akan merasakan kelegaan dan menurunnya tekanan atau stress. Ini merupakan kesempatan/peluang munculnya pemikiran rasional, objektif dan realistis.
Ketiga, Konselor harus mampu memanfaatkan situasi rasional ini untuk menemukan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, memberikan alternatif-alternatif pilihan  pemecahan masalah mereka.
2.4.3.      Analisis
Beragam keadaan degredasi moral religius dimasyarakat telah berdampak terhadap keluarga. Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini adanya degredasi  nilai-nilai moral religius pada sebagian anggota masyarakat karena kuatnya pengaruh materi dan dan mencari kesenangan hidup. Sering halal-haram tidak dipersoalkan lagi yang terpenting hanya memenuhi kepuasan duniawi.
Pergaulan bebas tanpa batas antara pria dan wanita tampak meluas dimasyarakat, dampaknya anak-anak remaja putri hamil diluar nikah, melacur (PSK) menikah usia muda dan tragisnya ketidaksiapan mental mengantarkan ia melakukan aborsi yang sangat mengerikan, ataupun membuang bayi yang tidak berdosa. Selain itu konflik sosial dan kekerasan seperi tipu-menipu, pencurian, dan perampokan makin merajalela. Hal ini terjadi karena makin kuatnya pengaruh paham materialistik  dan kesenangan hidup (hedonistik). Keadaan keluarga modern dicirikan oleh hal-hal seperti berikut:
1.      Banyak nya ibu rumah tangga yang turut sibuk mencari nafkah diluar sementara kebutuhan anak dikesampingkan,
2.      Pergeseran nilai keluarga dari nilai sosial-psikologis-religius beralih kenilai materialistis semata.
3.      Nilai anak bergeser dari anak yang mendaji amanah dari Allah menjadi sumber penghasilan atau ekonomi masa depan, tempat orang tua bergantung jika telah tua nanti.
4.      Keluarga besar menjadi keluarga inti
5.      Krisis keuangan sering terjadi karena masalah ekonomi, penyelewengan, egoisme, yang berujung pada keretakan atau perceraian.
6.      Perlakuan terhadap anak dan remaja seperti tekanan, kurang perhatian dan kasih sayang, menganggap sebagai anak kecil, kurang mampu berkomunikasi dengan anak dan remaja. Terlalu berlebihan dalam emberikan kasih sayang.
7.      Kekuasaan orang tua yang berlebihan (otoriter), sering menekan, memberi hukuman badan, menimbulkan anak yang nakal dan pemalas.
8.      Tuntutan orang tua terhadap anak yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuan anak.

2.5.Konseling Pernikahan
Konseling pernikahan (Marriage Counseling) adalah upaya membantu pasangan (calon suami-istri dan suami istri)  oleh konselor profesional, sehingga mereka dapat berkembang dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui cara-cara yang saling menghargai, toleransi, dan dengan komunikasi yang penuh pengertian sehingga tercapai motivasi berkeluarga, perkembangan, kemandirian, dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga.(Sofyan Willis, 2011:165)
Sedangkan konseling keluarga yaitu (Family Counseling) adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu-individu anggota keluarga melalui sistem keluarga dengan membenahi komunikasi  agar berkembang potensi mereka seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu  dari semua anggota keluarga, berdasarkan kesukarelaan, toleransi, penghargaan, dan kasih sayang.
Pada awalnya konseling pernikahan berorientasi pada bantuan terhadap masalah-masalah hubungan seksual, namun orientasi itu tidak memadai lagi jika dihubungkan dengan perkembangan dunia modern yang pesat.
Pada prinsipnya, konseling pernikahan bermanfaat bagi kehidupan pasangan. Baik sebelum menikah, saat permulaan berumah tangga, dan pada masa memiliki anak-anak.
1.      Masa sebelum pra nikah
Makin panjang masa berpacaran, amkin terbuka peluang untuk kebebasan seks. Karena itu islam tidak menyetujui masa pacaran dalam artian barat. Disamping itu, segera akan terjadi kebosanan saat memasuki ambang pernikahan, bahkan adanya kondom dan pil anti hamil yang dijual secara bebas diligkungan masyarakat semakin membuka peluang besar untuk berbuat maksiat atau free-sex.
Untuk mengantisipasi hal ini, harus ada semacam konseling prapernikahan, tujuan nya adalah:
a.    Mempercepat proses berpacaran menuju pelaminan jika pasangan itu sudah sanggup.
b.    Pasangan yang berpacaran harus ditumbuhkan kesadaran dan keimanan mereka, agar masa pacaran tidak menyimpang dari ajaran agama.
c.    Membina masa itu menjadi masa kratif untuk menumbuh kembangkan bakat dan kemampuan masing-masing sebagai modal untuk berumah tangga kelak.
Dalam proses konseling pranikah, konselor perlu menanamkan beberapa faktor penting yang menjadi prasyarat memasuki perkawinan dan berumah tangga. Sebagaimana diungkapkan Walgito (2000: 35) dalam https://baldatunthoyibah.wordpress.com/konseling/konseling keluarga/ fak or- faktor tesebut adalah :
a.    Faktor fisiologis dalam perkawinan : kesehatan pada umumnya, kemampuan mengadakan hubungan seksual. Faktor ini menjadi penting untuk dipahami pasangan suami isteri, karena salah satu tujuan perkawinan adalah menjalankan fungsi Regenerasi (meneruskan keturunan keluarga). Pemahaman kondisi masingmasing akan memudahkan proses adaptasi dalam hal pemenuhan kebutuhan ini.
b.    Faktor psikologis dalam perkawinan : kematangan emosi dan pikiran, sikap saling dapat menerima dan memberikan cara kasih antara suami isteri dan saling pengertian antara suami isteri. Faktor psikologi menjadi landasan penting dalam mencapai keluarga sakinah, tanpa persiapan psikologis yang matang baik suami atau isteri akan mengalami kesulitan dalam menghadap berbagai kemungkinan yang terjadi pada kehidupan rumah tangga yang akan dijalani. Sebab dalam keluarga pasti memiliki dinamika, tidak selama bahagia dan damai, tetapi pasti sering kali terjadi konflik dari yang sederhana samapai yang kompleks.
c.    Faktor agama dalam perkawinan. Faktor agama merupakan hal yang penting dalam membangun keluarga. Perkawinan beda agama akan cenderung lebih tinggi menimbulkan masalah bila dibandingkan dengan perkawinan seagama. Agama merupakan sumber yang memberikan bimbingan hidup secara menyeluruh baik termasuk dengan panduan agama, keluarga bahagia yang diidam-idamkan tiap pasangan lebih mudah tercapai.
d.   Faktor komunikasi dalam perkawinan Komunikasi menjadi hal sentral yang harus diperhatikan oleh pasangan suami isteri. Membangun komunikasi yang baik menjadi pintu untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat memicu timbulnya konflik yang lebih besar dalam keluarga.

2.      Masa awal berumahtangga
Pasangan yang mengalami kesulitan disarankan datang menemui konselor pernikahan manakala mereka menemui masalah. Tujuan agar mereka diberi bantuan agar mereka dapat mengatasi masalahnya.
Masalah-masalah utama dalam masa awal pernikahan pertama adalah penyesuaian emosional dan sosial antara mereka dengan keluarga lain seperti mertua mertua, adik/suami/istri atau keluarga lain yang menetap, atau teman istri yang datang berkeunjung.  Kedua, motivasi pernikahan, apakah karena materi pangkat, kedudukan, gelar, kecantintikan/rupawan, atau karena motivasi ibadah karena Allah. Ketiga, kehidupan latar belakang masing-masing yang mungkin mencuat pada masa awal pernikahan.
3.      Masa hidup berkeluarga (dengan anak-anak)
Jika keluarga sudah memiliki anak-anak, maka permasalahan keluarga makin bertambah, pertama mengokohkan sistem keluarga sehingga dapat menjadi dorongan, bagi kemandirian dan perkembangan individu-individu anggota keluarga. Kedua, menjadi pengaruh budaya luar menjalar dikeluarga melalui anggotanya. Ketiga, memelihara subsistem suami istri agar selalu harmonis. Keempat, memelihara subsistem orang tua agar selalu berwibawa.
Konseling keluarga dan pernikahan berperan untuk membenahi sistem keluarga agar komunikasi, toleransi, penghargaan, dan kemandirian anggota keluarga selalu terjadi. Sehingga anggota keluarga semuanya merasa betah dan bertanggung jawab atas keutuhan sistem keluarga.
2.6.Proses dan Teknik Konseling Pernikahan
2.6.1.      Proses Konseling Pernikahan
a.       Raport
Proses konseling pernikahan/ keluarga diawali dengan pembentukan raport  yaitu hubungan timbak balik, bersahabat, juga saling percaya antara konselor dengan konseli (suami-istri/keluarga) dengan tujuan agar suami istri/anggota keluarga jujur dan terbuka (disclosure)
Upaya pengembangan rapport itu ditentukan oleh aspek-aspek diri konselor yakni:
a.       Kontak mata,
b.      Perilaku non-verbal (perilaku attending), bersahabat, hangat, luwes, keramahan, senyum, menerima, jujur/asli, penuh perhatian, dan terbuka
c.       Bahasa lisan/verbal, (sapaan sesuai dengan teknik-teknik konseling), seperti ramah menyapa, senyum, dan bahasa lisan yang halus
b.      Pengembangan Apresiasi Emosional
konseling yang dipimpin oleh konselor akan berhasil apabila mampu  mendinamiskan suami-istri /anggota keluarga sehingga terlihat interaksi yang diwarnai emosional. Jika pada awalnya mereka kurang atau tidak mampu berkomuniksi  namun dengan keahlian konselor mereka mampu untuk berkomunikasi.
c.       Pengembangan Alternatif Modus Perilaku
Jika selama konseling, suami menemukan modus perilaku yang dipandang baik oleh istrinya maka modus perilaku itu akan dikembangkan terus  perilaku yang baru itu nantinya harus diterapkan dirumah setelah usai konseling.

d.      Fase Membina Hubungan Konseling
Fase ini amat penting di dalam proses konseling, dan keberhasilan tujuan konseling secara efektif ditentukan oleh keberhasilan konselor dalam membina hubungan konseling itu. Fase ini harus terjadi di tahap awal dan tahap berikutnya dari konseling yang diandai dengan adanya rapport sebagai kunci lancarnya hubungan konseling. Di samping itu, sikap konselor amat penting selain teknik konseling.Sikap-sikap yang penting dari konselor adalah sebagai berikut:
1.    Acceptance, yaitu menerima klien secara ikhlas tanpa
mempertimbangkan jenis kelamin, derajat, kekayaan, dan perbedaan agama. Selain itu, klien diterima dengan segala masalahnya, kesulitan, dan keluhan serta sikap-sikapnya baik yang positif baik yang negatif.
2.    Unconditional positive regard,artinya menghargai klien tanpa syarat . menerima klien apa adanya , tanpa dicampuri sifat menilai, mengejek, atau mengeritik.
3.    Understanding, konselor dapat memahami keadaan klien sebagaimana adanya.
4.    Genuine, yaitu bahwa konselor itu asli dan jujur dengan dirinya sendiri, wajar dalam perbuatan dan ucapan.
5.    Empati, artinya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (klien).
e.       Memperlancar Tindakan Positif
pada fase ini konselor trus menggali permasalahan koseli, hingga ditemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah, selanjutnya anggota keluarga suami-istri mengembangkan rencana tindakan, mengevaluasi rencana dan akhirnya konseling ditutup atas persetujuan suami-istri dengan ketentuan pertemuan selanjutnya jika akan diadakan lagi.
2.6.2.      Teknik-teknik konseling pernikahan
Beberapa teknik konseling pernikahan/keluarga yang dapat digunakan oleh konselor keluarga/pernikahan.
a.       Sculpting (mematung): yaitu  mengizinkan isteri, suami, anggota keluarga untuk menyatatakan perasaan, persepsi dan pikiran tentang berbagai hal. Sedangkn anggota yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian dan  penghargaan
b.      Role playing (bermain peran): memberikan peran tertentu kepada seorang anggota keluarga sebagai cara untuk menyatakan perasaan.
c.       Silence (diam) : teknik yang digunakan konselor jika, anggota keluarga suami/istri  banyak omong, menantikan ide seorang anggota keluarga yang akan muncul, jika salah satu anggota keluarga bertindak kejam atau berbicara kasar.
d.      Confrontation (Confrontasi):  dilakukan konselor jika klien tidak konsisten.
e.       Teaching Via Questioning (mengajar melalui pertanyaan), ialah suatu teknik untuk mengajar anggota keluarga dengan cara bertanya.
f.       Attending and Listening: yaitu teknik untuk mendekatkan diri  kepada klien dan mendengarkan mereka secara aktif.
g.      Refleksi Feeling: membaca bahasa badan klien serta perasaan nya kemudian merefreksikan kepadanya.
h.      Eksplorasi: menggali perasaan, pengalaman dan pikiran klien.
i.        Summerizing: menyimpulkan sementara pembicaraan yang telah berlangsung.
j.        Clarification (menjernihkan): menjernihkan atau memperjelas pembicaraan.
k.      Leading (Memimpin): upaya konselor untuk memimpin dan mengarahkan pembicaraan untuk mencapai tujuan.
l.        Focusing (Memfokuskan): upaya konselor untuk memfokuskan materi pembicaraan agar tidak menyimpang.




2.7.Bimbingan Keluarga Sakinah
Dalam https://baldatunthoyibah.wordpress.com/konseling/konseling keluarga/ Keluarga sakinah yaitu satu sistem keluarga yang berlandaskan keimana dan ketaqwaan kepada Allah, beramal saleh untuk meningkatkan potensi semua anggota, dan beramal saleh untuk keluarga-keluarga lain disekitarnya, serta berwasiat atau berkomunikasi dengan cara bimbingan yang haq, kesabaran, dan penuh dengan kasih sayang (Q.S Arrum : 21, Al-Asr : 3).
Kekuatan iman dan taqwa umat islam yang tertanam dalam dalam dirinya akan memberikan dampak positif kepada lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Keluarga akan menjadi damai dan tentram (sakinah) dimana setiap anggota keluarga (ayah, ibu, anak-anak dan anggota keluarga) dirumah tersebut taat beribadah kepada Allah, banyak berbuat baik untuk kemajuan keluarga. Membina keluarga agar menjadi sakinah adalah kepedulin utama ajaran islam
1.      Allah berfirman dalam surat Attahrim ayat 6: Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka. Meskipun pada ayat ini sasarannya adalah keluarga akan tetapi harus diri calon atau kepala keluarga itu terlebih dahulu yang dipeliharanya dari api neraka, karena jika orang tua sudah memagari diri dengan perbuatan baik, beriman, bertaqwa dan beramal saleh maka akan mudah menular kepada anak.
2.      Dalam surat Lukman ayat 12-19, berisi ajaran pendidikan keimanan dan ketaqwaan agar terbentuk keluarga sakinah. Antara lain dalam ayat itu mengajarkan supaya anak-anak tidak menyekutukan Allah, diperintahakan agar berbuat baik kepada orang tua dan tidak boleh menentang keduanya, melaksanakan sholat, mengaji, mengajak orang berbuat baik serta mencegah dari perbuatan mungkar, tidak boleh menyombongkan diri, dan sebagainya. Ajaran-ajaran ini sangat positif bagi pembentukan kepribadian anak supaya berakhlak mulia.
3.      Dalam salah satu hadis melalui tirmidzi, Rosulullah SAW menekankan pentingnya mendidik anak atas dasar keislaman
Tujuan bimbingan keluarga sakinah adalah membantu keluarga-keluarga muslim dalam membina keluarga sakinah melalui ilmu, wawasan, dan ketrampilan yang diberikan kepada kepala-kepala keluarga (Ibu dan Ayah), Selanjutnya mengembangkan materi bimbingan dan pelatihan keluarga sakinah melalui  materi gabungan antara agama ilmu perilaku serta konseling keluarga.
Faqih (2000:85‑89), dalam https://baldatunthoyibah.wordpress.com/konseling/konseling-keluarga/ menyatakan bahwa pelaksanaan bimbingan dan konseling perkawinan Islam harus memegang beberapa asas berikut :
1.    Asas kebahagian dunia akhirat
Perkawinan bukan saja merupakan sebuah sistem hidup yang diatur oleh negara tetapi juga merupakan sistem kehidupan yang syarat dengan tuntunan agama. Karenanya setiap kali muncul permasalah dalam perkawinan yang dijalani, segala upaya pemecahan masalah selalu diupayakan terselesaikannya masalah sekarng ini dan mendapatkan kebaikan pula dari sisi tuntunan agama.
2.    Asas sakinah mawadah warahmah
Keluarga bahagia dan kekal merupakan tujuan dari perkawinan. Untuk mencapai itu semua landasan cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang membentuk didalamnya menjadi sangat penting. Karenanya proses bimbingan konseling perkawinan juga harus tetap berpegang pada asas ini.
3.    Asas sabar dan tawakal
Segala permasalahan dalam rumah tangga pada dasarnya dapat dicari penyelesaiannya dengan baik. Kuncinya adalah usaha dari suami dan isteri untuk terus mencari jalan keluar dan berpasrah diri pada Allah. Konselor dapat membantu pasangan untuk tetap tegar dan berusaha mencari solusi terbaik dari setiap masalah yang ada.
4.    Asas komunikasi dan musyawarah
Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan keluarga. Banyaknya masalah yang muncul sering kali karena komuniaksi yang terjalin antara anggota keluarga tidak harmonis dan baik. Karenannya dalamn melakukan penyelesaian masalah komunikasi dan musyawarah antar kedua belah pihak harus dilakukan sehingga segala masalah dapat teratasi.
5.    Asas manfaat
Dalam melakukan layanan Bimbingan konseling perkawinan, asas manfaat menjadi sangat penting diterapkan. Kendati masalah yang dihadapi suami istri sangat rumit, segala upaya dan solusi harus di cari dengan memperhatikan manfaat yang lebih besar dapat diperoleh dibandingkan dengan kerugiannya.

Wahana untuk menciptakan keluarga sakinah antara lain adalah sholat berjama’ah , makan bersama, pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing dan yang paling penting adalah pembiasaan sikap-sikap serta perilaku sehari-hari berdasarkan ajaran agama.
Secara khusus bimbingan keluarga supaya beriman dan bertaqwa, positif, produktif, dan mandiri, melalui relasi melalui individual dan sistem keluarga yang didasarkan ajaran agama islam.  Selanjutnya memberikan wawasan, kemampuan, dan ketrampilan, kepada kepala-kepala dan calon-calon kepala keluarga dalam bidang perilaku anak dan remaja, dan keutamaan sistem keluarga untuk mengantisipasi masalah-masalh keluarga.

2.8.Peran Keluarga Dalam Pendidikan
2.8.1. Masalah Belajar
Beragam perilaku orang tua dan anggota lainnya didalam menyikapi belajar anak. Keragaman sikap tersebut disebabkan karena faktor yaitu:
a.       Budaya belajar
Budaya belajar ditentukan oleh budaya turun temurun suatu keluarga. Keluarga yang menanamkan budaya belajar akan membuat anak menjadi gemar membaca dan sebaliknya. Pendidikan orang tua (minimal ayah) yang tinggi akan memudahkan menanamkan minat belajar terhadap anak. Sedagkan orang tua yang pendidikannya rendah cenderung mempercayakan pendidikan anak kepada sekolah. Minat orang tua terhadap pendidikan juga sangat penting, waluapun ekonomi hanya pas-pasan dan pendidikan agak kurang, jika minat untuk menyekolhkan anak amat besar, maka besar kemungkinan anaknya akan sekolah tinggi dan sebaliknya. Lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap pendidikan, bagi anak yang mendapat lingkungan yang aman, damai, dan berpendidikan, ada harapan sekolahnya akan maju, namun sebaliknya jika lingkungan dipenuhi oleh hal-hal negatif besar kemungkinan anak-anak sekolah akan terpengaruh. Dalam hal masalah belajar orang tua dapat menggunakan kiat-kiat seperti berikut:
1.    Orang tua berusaha membantu anak belajar.
2.    Berdiskusi tentang keadaan sekolah dan kesulitan belajar pada umumnya.
3.    Melengkapi pendidikan umum disekolah formal dengan pendidikan agama dikeluarga.
4.    Ketrampilan/ pendidikan nonformal
5.    Menciptakan lingkungan keluarga belajar.

2.8.2. Bahaya narkoba
Upaya yang dapat dilakukan agar keluarga tidak tertular penyakit narkoba adalah dengan usaha preventif, menjaga jangan sampai anak terlibat dengan putaw, ganja, dan sebagainya. Usaha-usaha priventif tersebut diantaranya:
a.    Hindarkan pergaulan dengan kelompok-kelompok geng, preman dan ornag-orang yang memiliki perilaku tidak baik.
b.    Tanamkan nilai-nilai agama terhadap anak sejak kecil.
c.    Harus ada penyuluhan di masyarakat dan keluarga tentang bahaya narkoba.


2.8.3. Pendidikan anti narkoba (PAN)
Pendidikan anti narkoba (PAN) adalah upaya membantu individu yang belum terkena kecanduan narkoba supaya dia mampu menghindari, menolak, melawan, dan mensosialisasikan anti narkoba sehingga bahaya narkoba tidak meluas ke segenap masyarakat.
Untuk melakukan PAN haruslah dengan kerjasama terpadu setiap unsur masyarakat yang terkait dan peduli terhadap usaha preventif bahaya narkoba. Beberapa prinsip yang akan melandasi PAN yaitu:
a.    Terpadu: penanganan PAN harus terpadu, kerjasama erat antara pihak generasi muda, pemerintah (kelurahan,RT/RW), majlis ta’lim ibu-ibu dan pakar.
b.    Profesional: penanganan kasus narkoba harus profesional, termasuk usaha priventif.
c.    Kebutuhan, program-program PAN hendaknya berdasarkan kebutuhan-kebutuhan masyarakat, terutama generasi muda dan keluarga.

2.8.4.      Dinamika Kelompok
            Untuk membentuk sikap, kebiasaan, dan prilaku yang mampu melawan narkobaa melalui PAN maka harus dilaksanakan melalui Group Dynamic (dinamika kelompok). Teknik pelaksanaannya adalah :
a.    Setiap kelurahan mendata generasi mudanya mealui kelurahan atau majelis ta’lim ibu-ibu.
b.    Generasi muda dikelompokkan menjadi beberapa kelompok masing-masing sepuluh orang, dipimpin oleh seseorang ketua kelompok.

Kelompok inilah yang akan digarap oleh seorang pakar untuk mencapai tujuan PAN. Adapun pelaksanaan dinamika kelompok terdiri dari: Diskusi, Pendalaman, Simulasi, Bermain peran ( role playing)
Bagi anggota kelompok yang telah kecanduan, dapat diberikan individual counseling, yaitu terapi yang membantu individu agar terlepas dari kecanduan. Individu-individu seperti ini harus diperbanyak layanan konseling, termasuk konseling keluarga dan community therapy (terapi kemasyarakatan). Namun yang terpenting adalah agar ia dirawat dulu oleh dokter di rumah sakit ketergantungan obat untuk detoxification atau menghilangkan zat racun di tubuh dan otaknya.
Setelah detoxification barulah si pasien dapat diberikan konseling terpadu yaitu dengan melakukan beberpa treatment yaitu: konseling individual, konseling keluarga, konseling agama, community therapy dimana pasien dibawa ke kelompok-kelompok masyarakat untuk berdiskusi tentang kecanduaannya. Lalu anggota kelompok memberi saran, kritik bahkan kecaman. Kelompok-kelompok masyarakat itu antara lain: mahasiswa, sarjana, guru agama, para siswa SMA, guru Bk disekolah dan sebagainya. Kritik-kritik dari kelompok-kelompok masyarakat tersebut akan membentuk sikap baru pada diri pasien, yaitu kesadaran akan membentuk sikap baru pada diri pasien, yaitu kesadaran akan kebodohannya selama itu, mau saja mengkonsumsi bahan racun yang membahayakan diri. Dan timbul keinginan untuk membangun hidup baru yang sehat.

2.8.5.      Hambatan Ketahanan Keluarga
Hambatan-hambatan keluarga untuk melawan bahaya narkoba cukup bervariasi yaitu dari masalah budaya, agama, keutuhan sistem keluargadan pengaruh-pengaruh TV dan VCD.
Budaya materialistis telah menggejala secara luas di masyrakat kita. Artinya keluarga amat mendambakan kebahagiaan materi melalui pemilikan uang, emas, alat-alat rumah tangga yang serba luks, mobil dan rumah mewah. Untuk mencapai tujuannya sering keluarga dilupakan ayah ibu, sebab keduannya sibuk bekerja dari pagi hingga malam hari. Urusan anak-anak menjadi tanggung jawab pembantu rumah tangga yang kurang pendidikan dan juga masalah-masalah kesehatan. Akibatnya bermacam-macam, termasuk bahwa anak remaja telah bergaul bebas di luar, bahkan telah menggunakan narkoba.
Setelah remaja kecanduan, barulah orang tuanya sadar, karena semua dana dikerahkan untuk mengobati anak itu namun sia-sia sebab telah terlanjur rusak otaknya. Tidak bisa sekolah dan terus ketergantungan narkoba. Pertengkaran karena alasan anak sering terjadi di dalam keluarga. Pasalnya bahwa ayah sering menyalahkan ibu jika anak bermasalah, atau sebaliknya. Kadang-kadang pertengkaran begitu panas terjadi setiap hari di depan anak, membuat remaja itu lari dari rumah dan mengianap di rumah teman gaulnya.
Kaburnya anak dari rumah membuat persoalan baru, yaitu kemana harus mencarinya dan bagiaman membujuknya agar mau pulang kembali kerumah. Materi yang banyak tidaklah menolong jika remaja sudah sudah terlibat dengan kelompok-kelompok gang jahat seperti narkoba, kejahatan, dan sebagainya. Jika remaja memiliki bekal agama yang kuat, tentu dia tidak akan terperosok sangat jauh ke jurang kehinaan. Biasanya anak-anak yang diasuh orang tua lengkap dengan pembantu rumah tangga, dia agak lugu, bodoh, mudah dibujuk ke jalan negatif seperti narkoba. Jika telah kecanduan dia bisa saja disuruh mencuri uang dan harta orang tuanya.
Komunikasi yang lemah di dalam sistem keluarga menyebabkan egoistis pada setiap anggota keluarga, terutama para remaja. Mereka kurang menghormati orang tua, cuek urusan keluarga dan sering di luar rumah. Lemahnya komunikasi disebabkan sibuknya orang tua, sehingga jarang bertemu dengan anak-anaknya.
Bahaya naekoba yang telah mengancam keluarga seharusnya dijawab dengan ketahanan keluarga. Sebab jika keluarga sejak dini sudah sadar akan bahaya tersebut, tentu membuat berbagai upaya agar para remaja memiliki ketahanan seperti telah diuraikan terdahulu.

2.8.6.      Pemulihan pecandu narkoba
Apabila salah seorang remaja telah kecandun narkoba, dan keluarga tidak sanggup mengatasinya sediri, maka perlu ditangani oleh para ahli. Pertama, dokter medis harus mengupayakan detoxcifitation, yaitu mengurangi keracunan otak karena narkoba, kedua menghilangkan rasa kecanduannya hilang dengan metode atau pendekatan terpadu berupa:
a.    Konseling individual, penerapan konseling individual adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien dengan nuansa emosional sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor.
b.    Bimbingan kelompok (BKL), Bimbingan kelompok bertujuan memeberi kesempatan klien untuk berpastisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarat, seperti mahasiswa, sarjana, dan tokoh-tokoh masyarakat, guru-guru BK disekolah, para siswa dan sebagainya.
c.    Konseling Keluarga, fasilitataor konseling keluarga adalah konselor, sedangkan pesertanya adalah klien, orang tua, saudara, suami-istri dan sebagainya. Nuansa emosional yang akrab harus diciptakan agar terjadi keterbukaaan pada klien dan tanggu g jawab keluarga terhadap pemulihan klien.
d.   Pendidikan dan pelatihan,  pendidikan agama diberikan kepada klien narkoba dengan tujuan untuk membentuk kepribadian klien yang sehat sebagaimana dimili orang-orang normal. Pelatihan-pelatihan yang diperlukan adalah latihan komunikasi yang sopan, dan dengan bahasa yang baik, latihan bergaul dengan latihan masyarakat, latihan berdiskusi dan latihan beribadah.
e.    Kunjungan (visiting)
Proses pemulihan pelayanan narkoba diperlukan pula dengan program kunjungan/visiting.  Konselor harus mamapu memilih objek kunjungan agar subtansinya dapat mempercepat pemulihan, misalnya pesantren dan lembaga- lembaga ketrampilan.
f.     Partisipasi sosial
Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran sosial atau hidup bermasyarakat secara wajar dan produktif. Dalam artian setelah klien terlepas dari ketergantungan narkoba, ia harus kembali ke masyarakat dengan memenuhi nilai, norma dan aturan yang berlaku.

2.8.7.      Simulasi Dan Role Playing
Upaya prepentip PAN dalam melakukan simulasi dan role playing terdapat tiga obsi yag peting dalam melawan narkoba yaitu:
a.       Menghindar yaitu bagaimana anggota kelompok menghindari dari ejekan teman untuk memakai narkoba. Menghindari artinya dengan cara halus menghindarka diri, misalya dengan ucapan.
b.      Menolak dengan halus dan tegas, cara ini berarti memperlihatkan ketegaran anggota kelompok, namun tetap sopan. Menolak dengan halus tetapi tegas akan berdampak kepada pecandu dan bandar, yaitu akan berhati-hati memilih orang yang diajak untuk “make” (istilah dalam pergaulan pecandu, artinya memakai narkoba seperti putaw).
c.       Menolak dengan tegas dan sedikit berkampanye, apabila anggota kelompok telah matang kepribadiannya dan kokoh pendiriannya, berarti dia dapat berkampanye supaya pihak lawan berbicaranya mau meninggalka narkoba.











III. PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Keluarga merupakan unit terkecil dalam sistem kemasyarakatan, dan merupakan tempat kali anak memperoleh pendidikan. Memiliki keluarga harmonis dan sejahtera adalah dambaan bagi semua orang, namun untuk menciptakan keluarga yang harmonis tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Orang tua harus berusaha ekstra untuk menciptakan keluarga yang harmonis,  memberdayakan seluruh sistem anggota keluarga dengan baik, menjalankan tugas dan peran anggota keluarga sesuai dengan fungsinya, mengembangkan pola komunikasi, keterbukaan, kasih sayang yang seimbang, dan memegang teguh nilai-nilai dalam keluarga.
Ketahanan Keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
ketahanan keluarga sangat lah penting karena pada kondisi di era globalisasi ini begitu banyak pengaruh negatif yang bersumber dari luar yang dapet mempengaruhi kehidupan dalam keluarga, oleh karena itu  mengembangkan prinsip ketahanan keluarga oleh orang tua dengan melakukan upaya-upaya preventif sangat dibutuhkan agar anggota keluarga tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif tersebut yang dapat menimbulkan kekacauan dalam keluarga. 





DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Ketahanan Keluarga. http://repository.ipb.ac.id. Diakses pada tanggal 24 Februari 2015
Anonim. Konseling Keluarga .  https://baldatunthoyibah.wordpress.com. Diakses pada tangga 24 Februari 2015.
Anonim. Pengertian Ketahanan Keluarga. http://penelitihukum.org. Diakses pada tanggal 24 Februari 2015
Willis, Sofyan S. 2011. Konseling Keluarga. Bandung: Alfabeta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar