Selasa, 31 Maret 2015

BK KARIR-teori holland

BK KARIR
“TEORI HOLLAND”

Disusun Oleh:
Anisa dwi arfiani  (06071281320010)
Desi retno sari     (060711813200
Ike krisnawati      060711813200
                                        Tiara Wulandari (06071281320020)
Siti munawaroh (0607128132000
Dosen Pengasuh: Dra. Kelanawati Karim,M.Sc.Ed

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVESRSITAS SRIWIJAYA
2015



I PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Usaha menyiapkan siswa agar dapat memenuhi harapan orang tua, masyarakat  dan pemerintah mempersiapkan siswa agar dapat menjadi anggota masyarakat yang mempunyai ketrampilan sehingga merupakan tenaga kerja yang terampil maka sekolah mengusahakan  suatu usaha yang nyata untuk memberikan layanan bimbingan.  
Untuk membantu  anak dalam mengembangkan diri secara optimal sehingga dapat  merencanakan pencapaian pekerjaan sebagai landasan karier yang seslla dengan kemampuan, bimbingan karier sebagai salah satu bidang layanan bimbingan konseling sangat dibutuhkan. Karena bimbingan karier merupakan bimbinganyang mencakup kegiatan bimbingan kepada siswa dari memilih, menyiapkan diri, mencari dan menyesuaikan diri terhadap karier (Aryatmi Siswohardjono, 1990: 457). Dengan layanan bimbingan karier yang sudah diberikan diharapkan siswa dapat memahami karakteristik dirinya dalam hal minat, nilai-nilai, kecakapan dan ciri-ciri kepribadian serta dapat  rnengidentifikasikan  bidang pekerjaan yang  luas, yang mungkin lebih cocok bagi rnereka selanjutnya diharapkan siswa dapat menemukan karier dan melaksanakan karier yang efektif serta memberikan kelayakan hidup.
Bimbingan  karier merupakan salah satu aspek bimbingan  perkembangan, sehingga sangat diperlukan  sepanjang  perkembangan  anak,  lebih baik  jika bimbingan itu diberikan  ke anak sejak rnasa  kanak-kanak  bahkan sebelun masuk sekolah,  yang diteruskan  di masa sekolah dasar, di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi, bahkan mungkin masih diperlukan  sewaktu seseorang sudah memasuki dunia  kerja, dengan harapan bahwa dengan bimbingan yang diberikan akan membantu  dalam penyesuaian diri dengan  sifat dan situasi kerja.
Dari berbagai tori tentang penentuan karir individu, maka didalam makalah ini akan membahas bagaimana teori Holland dalam menentukan karir individu yang sesuai dengan lingkungan, latar belakng pribadi, dan situasi kerja.
                                       
1.2  RUMUSAN MASALAHAN

1.      Untuk mengetahui bagaimana cara pandang teori Holland dalam menentukan karir dimasa depan?

1.3  TUJUAN PEMBAHASAN

Setelah mengetahui tentang rumusan masalah, maka dapat diketahui bahwa tujuan dari makalah ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh teori Holland dalam menentukan karir individu dimasa depan.


















II PEMBAHASAN
2.1    PENGERTIAN BIMBINGAN dan KONSELING KARIR
Menurut Ruslan A.Gani (2012:13), bimbingan karir merupakan suatu proses bantuan, layanan, dan pendekatan terhadap individu, (siswa/remaja), agar individu yang bersangkutan dapat mengenal dirinya, memahami dirinya, dengan bentuk kehidupan yang diharapkannya, untuk menentukan pilihanya, dan mengambil suatu keputusan bahwa keputusanya tersebut adalah yang paling tepat, sesuai dengan keadaan dirinya dihubungkan dengan persyaratan-persyaratan dan tujuan pekerjaan/karir yang dipilihnya.
Meurut  Bezanson & Monsebrateen (dalam Sukardi, 1994:8), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan konseling karir adalah: wawancara diantara seorang konselor dan seorang konseli yang dititik beratkan dalam mengenal dan membahas kemungkinan-kemungkinan pekerjaan, jabatan atau karir konseli secara realistis, mengenal cara pemecahan masalah dan tindakan-tindakan korektif yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan ini dan mengimplementasikan suatu rencana pengintregasian arah kegiatan konseli kedalam pasaran kerja.
Dengan demikian pengertian bimbingan dan konseling karir dalah suatu wawancara yang dilakukan oleh konselor berupa layanan, bantuan, dan pendekatan terhadap konseli yang menitikberatkan pekerjaan/karir, agar konseli yang bersangkutan dapat mengenal dan memahami diri dan karirnya sesuai dengan pilihan pekerjaan/karirnya, dapat mengenal cara pemecahan masalah yang kemungkinan terjadi dalam suatu pekerjaan/karirnya sehingga tujuan suatu pekerjaan/lkarir dapat tercapai secara optimal.





2.2    TUJUAN BIMBINGAN dan KONSELING KARIR

Sesuai dengan pengertian bimbingan dan konseling karir diatas maka dapat dikemukakan bahwa tujuan bimbingan dan konseling karir antara lain:
1.    Dapat menilai dan memahami dirinya terutama mengenai potensi-potensi dasar, minat, sikap, dan kecakapan.
2.    Mempelajari dan mengetahui tingkat kepuasan yang mungkin dapat dicapai dari suatu pekerjaan.
3.    Mempelajari dan mengetahui berbagai jenis pekerjaan dan potensi yang berhubungan dengan potensi dan minatnya.
4.    Memiliki sikap yang positif dan sehat terhadap dunia kerja, artinya skiswa dapat memberikan penghargaan wajar terhadap setiap jenis pekerjaan.
5.    Memperoleh penghargaan mengenai semua jenis pekerjaan yang ada dilingkunganya.
6.    Mempelajari dan mengetahui jenis-jenis pendidikan atau latihan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan tertentu.
7.    Dapat memberikan penialaian pekerjaan secara tepat.Surya (dalam Ruslan A.Gani 2012:14).
8.    Mengajar konseli untuk bebas berupaya dalam mencapai dan mempertahankan kepuasan kerja.
9.    Untuk memperkuat pilihan suatu pekerjaan/karir yang telah konseli pilih secara tepat.
10.              Menemukan fakta tentang diri dan dunia pekerjaan/karir yang belum diketahui.
Dari tujuan bimbingan dan konseling karir diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pada pokoknya untuk membatu individu dapat memahami dirinya, memahami dunia kerjanya, dan mngadakan penyesuaian diri dan dunia kerja melalui pembuatan rencana karir dan pengambilan karir secara tetap dan efektif.  Untuk mewujudkan tujuan tersebut kepada setiap konselor yang melibatkan dirinya dalam masalah karir dituntut untuk meningkatkan kepercayaan diri
konseli, melalui pendekatan-pendekatan dan teknik yang sesuai bagi masing-masing konseli, terutama untuk membantu konseli dalam proses merencanakan, memilih, menetapkan, mengimplementasikan, \serta memutuskan pekerjaan/karir masa depanya secara tepat dan efektif. Ketut Sukardi(1994:18).
2.3    PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR DISEKOLAH
Menurut Tatang dalam http://tatangsupriadi.blogspot.com/2015/01/bk-karir-pengertian-karir-dan-bimbingan.html. Bimbingan karier di sekolah dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka beberapa pandangan tentang prinsip-prinsip bimbingan perlu diperhatikan oleh para pembimbing pada khususnya dan administrator sekolah pada umumnya, terutama dalam penyusunan program pelaksanaan layanan bimbingan karier di sekolah. Secara umum prinsip-prinsip bimbingan karier di Sekolah, adalah sebagai berikut:
1.        Seluruh  siswa memiliki  kesempatan  yang sama untuk mengembangkan  dirinya dalam pencapaian  kariernya  secara  tepat. Tidak ada perkecualian, baik itu yang kaya maupun  yang miskin, dan  faktor-faktor  lainnya.
2.        Setiap  siswa harus memahami bahwa  karier itu adalah sebagai suatu jalan hidup, dan pendidikan  adalah  sebagai persiapan  dalam hidup.
3.        Siswa hendaknya dibantu dalam mengembangkan pemahaman yang cukup memadahi terhadap diri sendiri dan kaitannya dengan perkernbangan sosial pribadi dan perencanaan  pendidikan  karier.
4.        Siswa  secara keseluruhan hendaknya  dibantu untuk memperoleh  pemahaman tentang hubungan antara pendidikannya dan kariernya.
5.        Setiap siswa hendaknya memilih  kesempatan untuk menguji  konsep,  berbagai peranan dan ketrampilannya  guna mengembangkan  nilai-nilai  dan norma-nonna yang memiliki aplikasi  bagi karier di masa depannya.
6.        Program bimbingan karier di sekolah hendaknya berpusat di kelas, dengan koordinasi oleh pembimbing, disertai partisipasi orang tua dan kontribusi masyarakat.
Dari beberapa prinsip yang terdapat dalam bimbingan karier tersebut dapat disimpulkan bahwa, bimbingan karier dalam pelaksanaannya memiliki pedoman yang umum dan jelas dalam memberikan pelayanan kepada siswanya dalam mendeteksi diri, memberikan layanan tentang karakteristik dunia kerja sehingga mampu menciptakan kemandirian  siswa dalam menentukan arah pilih karier yang sesuai dengan keadaan dirinya, agar mampu mencapai  kebahagiaan  hidup dimasa  depan kariernya.
2.4    TEORI PEMILIHAN KARIR DARI HOLLAND
1.        Konsep Dasar Teori Holland
Pada tahun 1966, Holland berpendapat bahwa lingkungan-lingkungan okupasional itu adalah realisrik, intelektual, artistik, sosial, pengusaha dan konvensional demikian juga tipe kepribadian yang diberi nama yang sama. Tingkatan orientasi kepribadian individu menetukan lingkungan yang dipilihnya, semakin jelas tingkatan orientasi model pribadi (suatu proses perkembangan yang ditentukan melalui pembawaan dan riwayat hidup yang bereaksi dengan tuntutan lingkungan) individu menetukan lingkungan maka semakin efektif pencarian lingkungan yang sesuai. Pengetahuan individu tentang diri dan lingkungan diperlukan untuk menetapkan pilihan yang sesuai.
Pada tahun 1973 teori Holland direvisi bahwa tipe-tipe kepribadian dan okupasi lingkungan itu realistik, investigatif, artistik, sosial, pengusaha, dan konvensional. Dan holland juga mnegakui bahwa pandanganya berakar dalam psikologi diferensial, teutama penelitian dan pengukuran terhadap minat, dan tradisi psikologi kepribadian yang mempelajari tipe-tipe kepribadian. Dari dua sumber tersebut Holland mengasumsikan bahwa orang yang memiliki minat yang berbeda-beda dan bekerja dalam lingkungan yang berlainan sebenarnya adalah orang yang berkepribadian lain-lain dan mempunyai sejarah hidup yang berbeda. Manrihu 1992 (dalam creater-development-theory-and enviroment-models.California.state.uversity.scenario.www.wsus.edu/cereectcentre.).
Menurut Holland (dalam Ketut Sukardi 1994:50), pilihan karir ialah suatu ekspresi atau suatu perluasan kepribadian dalam dunia kerja yang diikuti oleh identifikasi berikutnya dengan stereotipe pekerjaan yang spesifik. Perbandingan antara diri (self) dengan persepsi terhadap suatu pekerjaan dan penerimaan atau penolakan adalah penentu utama dalam pilihan karir. Keseuaian antara tinjauan diri (self) seseorang dengan penetapan pemilihan pekerjaan ialah berhubungan dengan model gaya pribadi.
2.        Tipe Kepribadian Menurut Holland
John L. Holland merumuskan tipe kepribadian menjadi enam golongan, setiap golongan dijabarkan kedalam suatu model teori yang disebut orientasi model. Orientasi model pribadi adalah suatu proses perkembangan yang ditentukan melalaui pembawaan dan riwayat hidup individu yang bereaksi dengan tuntutan lingkungan dengan penyesuaian yang khas (adaptive behaviors), motif dan kebutuhan psikologis, konsep diri, riwayat hidup, tujuan kependidikan dan karir, peran pekerjaan yang diinginkan, kemampuan dasar, dan intelegensi. Kemiripan seseorang dengan masing-masing model disebut pola kepribadianya. Seseorang yang paling mendekati kemiripanya dengan suatu orientasi model tertentu, model itulah yang merupakan tipe kepribadiannya.
Dalam perkembangan tipe kepribadian merupakan hasil dari interaksi-interaksi faktor-faktor pembawaan dan lingkungan dan interaksi-interaksi ini membawa kepada preferensi-preferensi untuk jenis aktivitas khusus yang pada giliranya mengarahkan individu kepada tipe prilaku-prilaku tertentu yang rangkumanya adalah sebagai berikur: Manrihu 1992 (dalam creater-development-theory-and enviroment-models.California.state.uversity.scenario.www.wsus.edu/cereectcentre.).
a.       Tipe realistik
Tipe realistik, yaitu: tipe pribadi yang preferensinya pada aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi eksplisit, teratur, atau sistematik terhadap objek-objek, alat-alat, masin-mesin, dan binatang binatang. Tidak suka aktivitas pemberi bantuan atau pendidikan. Preferensinya membawa kepada pengembanagn konpetensi dalam bekerja dengan benda-benda, binatang-binaytang, alat-alat, dan perlengkapan teknik, dan mengabaikan kompetensi sosial dan pendidikan. Mengggap diri baik dalam kemampuan mekanikal dan atletik dan tidak cakap dalam ketrampilan sosial.
b.      Tipe insvestigatif
yaitu tipe pribadi yangmemrlukan penyelidikan observasional, simbolik, sistematik, dan kreatif terhadap fenomea fisik, biologis, dan kultural agar dapat memahami dan mengontrol fenomena tersebut, dan tidak menyukai aktivitas persuasif, sosial, dan repuratif. Contoh-contoh uanag memilih kebutuhan tipe ini adalah ahli kimia, fisika.
c.       Tipe artistik
yaitu lebih menyukai aktivitas yang ambiguous, bebas, dan tidak tersistematisasi untuk menciptakan produk artistik, seperti lukisan, darama karangan. Tidak menyukai aktivitas yang sistematik, teratur, dan rutin. Kompetensi dalam upaya artistik dikembangkan secara rutin, sistematik, klerikal diabaikan.  Memandang diri sebagai ekspresif, murni, independen dan memiliki kemapuan artistik. Ciri khusus adalah emosional, imaginatif, dan murni.
d.      Tipe sosial
yaitu lebih menyukai aktivitas yang melibatkan orang lain dengan penekanan pada membatu, mengajar, atau menyediakn bantuan. Tidak menyukai aktivitas rutin dan sistematik yang melibatkan objek-objek dan materi-materi. Kompetensi sosial cenderung dikembangkan, dan hal yang bersifat manual&teknik diabaikan. Menganggap diri konponen dalam membantu dan mengajar orang lain serta menilai tinggi aktivitas hubungan sosial. Ciri khusus kerja sama, bersahabat, persuasif, dan bijaksana.
e.       Tipe enterprising
yaitu lebih menyukai aktivitas yang melibatkan manipulasi terhadap orang-orang lain untuk perolehan ekonomik atau tujuan organisi. Tidak menyukai aktivitas yang sistematik, abstrak, dan ilmuah. Konpetensi kepemimpinan, persuatif, dan yang bersifat supervisi dikembngkan, dan yang ilmiah diabaikan. Memandang diri sebagai agresif, popular, percaya diri, dan memiliki kemampuan memimpin. Keberhasilan  politik dan ekonomi dinilai tinggi. Ciri khusus ambisi, dominasi, optimisme, dan sosiabilitas.
f.       Tipe konvensional
yaitu lebih menyukai aktivitas yang manipulasi data yang ekplisit, teratur, dan sistematik guna memberikan kontibusi kepada tujuan organisasi. Tidak menyukai aktivitas yang tidak pasti, bebas dan tdak sistematik. Kompetensi dikembangkan dalam bidang klerikal, kompuasional, dan sistem usaha. aktivitasartistik, dan semacamnya diabaikan. Memandang diri sebagai teratur, mudah menyesuaikan diri, dan memiliki ketrampilan klerikal nuerikal. Ciri khusus efesien, keteraturan, praktikalitas, dan pemegang buku.

3.        Teori Tipe Kepribadian
Kepribadian seseorang karena pengaruh lingkungan dan bawaan dari diri sendiri atau keturunan, Holland menjelaskan pandanganya menjadi 3 ide yaitu: Manrihu 1992,(dalam creater-development-theory-and enviroment-models.California.state.uversity.scenario.www.wsus.edu/cereectcentre.).
a.         Semua orang dapat digolongkan menurut patokan samapai berapa jauh mereka mendekati salah satu diantara tipe kepribadian, semakin mirip seseorang dengan salah satu enam tipe kepribadian tersebut maka semakin tampak ciri-ciri dan corak teoritis atau tipe ideal, yang merupakan hasil interaksi antara faktor internal dan eksternal. Berdasarkan interaksi manusia dapat menemukan hal-hal yang baru dan menyenangkan, kemudian melahirkan sesuatu minat yang kuat dan menumbuhkan katrampilan tertentu. Bila tipe kepribadian sanagat mirip dianatara enam tipe kepribadian maka dapat diambil profil total melalaui testing psikologis dan analisis sejarah hidup sehubungan dengan aspirasi okupasi.
b.        Berbagai lingkungan yang didalamnya orang hidup dan bekerja, dapat digolongkan menurut patokan samapi berapa jauh suatu lingkungan mendekati salah satu  model lingkungan yaitu: lingkungan realistik (realistik), lingkungan penelitian/pengusutan (investigative), lingkungan kesenian (artistic), lingkungan pengusaha (enterprising), lingkungan pelayanan sosial (sosial), lingkungan bersuasana kegiatan rutin (konvensional). Semakin mirip lingkungan teretentu denagn model lingkungan maka semakin tampak didalamnya corak dan suasana kehidupan yang khas untuk lingkungan yang bersangkutan. Orang yang menempati suatu lingkungan tertentu dengan tipe keribadian tertentu dan berkumpul untuk hidup bekerja sama mereka menciptakan susana yang menarik untuk menggabungkan diri dengan tipe yang sama, metode untuk mengetahui tipe kepribadian dapat menghitung jumlah orang yang dari berbagai tipe dan dari jumlah tersebut ditransformasikan menjadi presentase, semakin tinggi presentase maka semakin khas kepribadian tersebut menciptakan suasana
c.         Perpaduan antara tipe kepribadian tertentu dan model lingkungan yang sesuai menghasilkan keselarasan dan kecocokan, sehingga seseorang dapat mengembnagkan diri dalam lingkungan okupasi tertentu dan merasa puas.

4.        Aplikasi Teori Holland Disekolah
Pandangan holland sangat relevan bagi bimbingan karir pada jenjang pendidikan awal dan pendidikan tinggi. Penekanan yang diberiakn pada tingkat pemahan diri sehubungan dengan beberapa kualitas bombingan yang dimiliki konselor untuk informasi yang akurat mengenai lingkungan okupasi, menyandarkan lembaga bimbingan akan tugasnya membantu individu menal dirinya dan lingkungan hal ini sangat diperlukan untuk memilih okupasi yang matang. Selanjutntya Holland juga mengembangkan alat untuk individu dalam pemilihan karir yaitu the occupations finder dan the self-directed search, yang manyakan kagiatan/aktivitas yang diminati, dan dievalusi diri dalam bebrapa ketrampilan, harus dicocokan dengan sistem klasifikasi okupasi yang berlandasan pada teori yang sama, dengan demikian individu dapat menemukan sejumlah alternatif pilihan okupasi untuk pertimbangan lebih lanjut.
5.        Kelebihan Dan Keuntungan Teori Holland
Kelemahan dalam teori ini adalah kurang ditinjau dari proses perkembangan yang melandas keenam tipe kepribadian dan tidak menunjukkan fase tertentu dalam proses perkembangan dan rentang umur.
Teori hollad dinilai sebagai teori komperhensif oleh para ahli psikologis karena meninjau pilihan okupasi sebagai bagian dari keseluruhan pola hidup seseorang dan sebagai teori yang mendapat banyak dukungan dari hasil penelitian yang menyangkut model lingkungan dan tipe krpbadian.
6.        Teori Kepribadian dan Psikologis Individu Menurut Holland
1.    Realistic . Kemampuan mekanikal, psikomotor dan atlentik yang baik. Jujur, setia, suka kegiatan diluar, lebih suka bekerja dengan alat (, tumbuhan dan hewan), lebih suka kegiatan fisik, lebihmesin kegiatan konkrit, tidak suka bersosialisasi, menyukai hal suka yang sederhana (buruh, petani supir).
2.    Investigasi. Kemapuan memecahkan masalh dan analitis yang baik, berfikir matematis, suka mengobservasi, lebih suka bekerja sendiri, pemberi ide, (hari-hati, kritis,  dan selalu ingin tahu), suka kedisiplinana, sistematis. Lingkungan okupasional ilmiah seperti ahli kimia, fisika, matematik. Teknis seperti teknis lab, programer, pekerja elektronik.
3.    Artistic. Berfikir abstrak, menyukai keindahan, (kreatif, suka hal kompleks, emosional, intuitif, ideal), suka bekerja secara mandiri, (suka menyanyi, menulis, berekting, melukis), imagnatif, tidak dapat diduga, suka sistematis.
4.    Sosial. Komunikatif, (bersahabat, mudah bergaul), (suka memberi dan membantu), baik, bertanggung jawab, mempunyai toleransi yang baik, dapat memahami, kemampuan verbal dan personal yang baik. Okupasionalnya edukasional guru, administrasi pendidikan dan profesor. Kesejahteraan sosial seperti pekerja sosial, sosiologi, konselor.
5.    Enterprising.  percaya diri, mudah beradaptasi, ambisius, (kemampuan bahasa dan pemimpin yang baik), suka pengaruh seseorang, kemampuan interpersonal yang baik, (penuh energi, optimis persuasif), suka mengambil resiko, spontan suka mengontrol. Okupasinalnya manager
6.    Convensioanl. Tergantung pada orang lain, tidak kreatif, ()suka disiplindan ketetapan, suka memperhatikan detail, efesien, melaksanakan tugas secara teratur, kelampuan klerikel dan numerical yang baik, stabil dan tradisional.









III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari barbagi penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Holland mengemukakan individu terbagi menjadi 6 tipe kepribadian diantaranya realistik, intelektual, konvensional, enterprising, artistik, dan sosial. Perkembangan tipe kepribadian tersebut akibat dari interaksi dengan lingkungan dan yang menentukan dari tipe kepribadian adalah faktor bawaan diri sendri dan lingkungan.
Individu dapat menetukan karir secara gemilang apabila tipe kepribadian yang khas diterima didalam suatu lingkungan kerja, selanjutnya minat yang dimiliki individu yang besar dan sosial yang mendukung utuk bekerja.
           




DAFTAR PUSTAKA

Ghani, Ruslan. 2012. Bimbingan Karir. Angkasa Bandung: Bandung.


Siswohardjono, Aryatmi. 1990. Perspektif Bimbingan Konseling dan Penerapanya di Berbagai Institusi. Semarang: Satya Wacana.

Ketut, Dewa. 1994. Penggunaan Tes Dalam Konseling Kari: Teori Konsep&interpretasi Tes. Usaha Nasional: Surabaya-Indonesia.

Manrihu 1992 (dalam creater-development-theory-and enviroment-models.California.state.uversity.scenario.www.wsus.edu/cereectcentre.). diakses pada 2015-02-16.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar